Pendahuluan
Di antara seluruh Gereja Ortodoks Timur, Patriarkat Rumania menempati kedudukan yang sangat unik: ia adalah satu-satunya Gereja Ortodoks besar di dunia yang umatnya berbahasa Latin, sementara hampir seluruh Gereja Ortodoks lainnya berkembang di kalangan bangsa berbahasa Yunani atau Slavia. Bangsa Rumania adalah keturunan penduduk provinsi Dacia yang diromanisasi oleh Kekaisaran Romawi pada abad kedua, dan bahasa Rumania hingga hari ini tetap menjadi satu-satunya bahasa rumpun Latin yang menjadi bahasa liturgi resmi sebuah Gereja Ortodoks otosefalus penuh. Karena keunikan inilah, Rumania sering disebut sebagai pulau Latin di lautan Slavia, sebuah pulau yang sekaligus menjadi benteng iman Ortodoks di ujung timur dunia Latin.
Gelar resmi pemimpin Gereja ini adalah Patriark Seluruh Rumania, sebuah gelar yang baru diperoleh pada abad kedua puluh, meski akar iman Kristen di wilayah ini sudah berusia hampir dua ribu tahun. Patriarkat Rumania kini menjadi salah satu Gereja Ortodoks dengan jumlah umat terbesar di dunia, dengan lebih dari delapan belas juta umat di Rumania sendiri dan jutaan lainnya tersebar di Republik Moldova serta diaspora Rumania di seluruh dunia. Perjalanan panjang Gereja ini, dari penginjilan tepi Sungai Donau pada masa Kekaisaran Romawi hingga menjadi salah satu Patriarkat paling dinamis di dunia Ortodoks kontemporer, menjadikannya sebuah kisah yang begitu kaya dan layak untuk diperdalam.
Dacia Romawi dan Akar Latin Bangsa Romania
Sejarah bangsa Rumania tidak dapat dipisahkan dari penaklukan wilayah Dacia oleh Kaisar Trajan pada tahun 106 Masehi, yang menjadikan Dacia sebagai provinsi Kekaisaran Romawi selama sekitar seratus enam puluh tahun. Selama periode inilah bahasa Latin Vulgar, budaya, dan hukum Romawi berbaur secara mendalam dengan penduduk asli Dacia, membentuk sebuah identitas etnis dan linguistik baru yang menjadi cikal bakal bangsa Rumania modern. Meski Kekaisaran Romawi menarik administrasi resminya dari Dacia pada tahun 271, warisan bahasa dan budaya Latin tetap bertahan di kalangan penduduk yang tersisa, sebuah fenomena yang oleh para sejarawan disebut sebagai kesinambungan Daco-Romawi.
Wilayah yang kini menjadi Rumania terletak tepat di ujung timur dunia Latin, dikelilingi oleh bangsa-bangsa Slavia, Hungaria, dan berbagai suku migran lainnya yang silih berganti melintasi kawasan itu selama berabad-abad. Justru di tengah keterasingan geografis inilah bahasa dan identitas Latin bangsa Rumania berhasil bertahan hingga hari ini, sebuah keajaiban historis yang kelak akan sangat memengaruhi corak khas Gereja Ortodoks Rumania sebagai satu-satunya Gereja Ortodoks besar yang berbahasa Latin.
Bahasa Rumania modern sendiri menjadi salah satu bukti paling nyata dari warisan tersebut. Meskipun selama berabad-abad hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa Slavia dan menerima banyak pengaruh kosakata dari bahasa Slavonik Gerejawi, Hungaria, Yunani, dan Turki, struktur dasarnya tetap merupakan bahasa Roman yang berasal langsung dari bahasa Latin rakyat yang digunakan di provinsi-provinsi timur Kekaisaran Romawi. Karena itu, seorang penutur bahasa Italia, Spanyol, Portugis, atau Prancis masih dapat mengenali banyak kata dasar dalam bahasa Rumania yang memiliki akar yang sama dengan bahasa mereka sendiri.
Namun keunikan Rumania tidak hanya terletak pada bahasanya. Berbeda dengan sebagian besar bangsa berbahasa Latin yang pada akhirnya berkembang dalam lingkungan Gereja Barat dan kemudian berada di bawah yurisdiksi Roma, nenek moyang bangsa Rumania justru berkembang di wilayah yang secara politik, budaya, dan gerejawi semakin terhubung dengan dunia Bizantium. Setelah pembagian permanen Kekaisaran Romawi menjadi bagian Barat dan Timur, kawasan di sekitar Sungai Donau bagian bawah secara bertahap masuk ke dalam orbit Konstantinopel. Akibatnya, ketika identitas gerejawi bangsa Rumania mulai terbentuk secara lebih jelas pada abad-abad berikutnya, pengaruh teologi, liturgi, dan spiritualitas Bizantium jauh lebih kuat dibandingkan pengaruh Latin Barat.
Fakta inilah yang menjadikan sejarah Rumania begitu unik dalam keseluruhan sejarah Kekristenan. Bangsa Rumania mempertahankan bahasa yang berasal dari Roma, namun menerima iman dan kehidupan gerejawi yang berkembang dalam tradisi Konstantinopel. Mereka mewarisi kosakata Latin, tetapi berdoa menurut ritus Bizantium. Mereka mempertahankan identitas sebagai bangsa Roman, tetapi secara spiritual tumbuh sebagai bagian dari dunia Ortodoks Timur. Perpaduan antara warisan Romawi dan spiritualitas Bizantium ini kemudian menjadi salah satu ciri paling khas Gereja Ortodoks Rumania sepanjang sejarahnya.
Dalam banyak hal, Rumania dapat dipandang sebagai jembatan historis antara dua dunia besar Kekristenan Eropa. Di satu sisi, ia merupakan pewaris terakhir dari tradisi Latin yang bertahan di Eropa Timur; di sisi lain, ia menjadi bagian integral dari peradaban Ortodoks yang berkembang di bawah pengaruh Bizantium. Perpaduan unik inilah yang menjelaskan mengapa Gereja Ortodoks Rumania memiliki karakter yang berbeda dari Gereja-Gereja Ortodoks Slavia maupun Gereja-Gereja Ortodoks Yunani, sekaligus menjadikannya salah satu Gereja yang paling menarik dalam seluruh sejarah Kekristenan.
Kedatangan Iman Kristen di Scythia Minor
Kekristenan pertama kali diperkenalkan ke wilayah yang kini menjadi Rumania melalui pelayanan St. Andreas Sang Rasul, yang memberitakan Injil di wilayah Scythia Minor, yaitu kawasan Dobrogea di tepi Laut Hitam, pada abad pertama. Karena tradisi inilah, St. Andreas dihormati sebagai pelindung utama Gereja Rumania, dan sebuah gua di dekat Ion Corvin di Dobrogea hingga kini dikenal sebagai Gua St. Andreas, diyakini sebagai tempat sang rasul pernah berdoa dan berlindung.
Meskipun sumber-sumber sejarah mengenai aktivitas St. Andreas di kawasan tersebut tidak sebanyak tradisi apostolik di Antiokhia, Roma, atau Efesus, keyakinan mengenai hubungan antara Sang Rasul dan wilayah Scythia telah dikenal sejak masa Gereja kuno. Beberapa penulis Kristen awal, termasuk Origenes dan Eusebius dari Kaisarea, menyebut bahwa St. Andreas memberitakan Injil di wilayah-wilayah utara Laut Hitam. Oleh karena itu, bagi Gereja Rumania, tradisi ini tidak hanya dipahami sebagai kisah kesalehan lokal, tetapi juga sebagai dasar apostolik yang menghubungkan Gereja Rumania secara langsung dengan pewartaan para rasul pada abad pertama.
Hubungan dengan St. Andreas memiliki makna yang sangat penting dalam kesadaran historis Gereja Rumania. Sebagaimana Gereja Konstantinopel memandang St. Andreas sebagai pendiri apostoliknya dan Gereja Roma menghubungkan dirinya dengan St. Petrus dan St. Paulus, demikian pula Gereja Rumania melihat pelayanan Santo Andreas sebagai tanda bahwa benih Kekristenan telah ditanam di tanah Rumania sejak masa Gereja Perdana. Karena alasan inilah, hari raya St. Andreas setiap tanggal 30 November memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam kehidupan religius bangsa Rumania dan bahkan ditetapkan sebagai hari raya nasional keagamaan.
Bukti sejarah yang lebih kuat menunjukkan bahwa Kekristenan berkembang subur di wilayah Scythia Minor sejak awal abad keempat, tidak lama setelah Edik Milan tahun 313 memberikan kebebasan beragama di seluruh Kekaisaran Romawi. Catatan sejarah mencatat sekitar lima belas takhta episkopal yang telah berdiri di sepanjang tepi kanan Sungai Donau pada masa itu, tersebar di kota-kota seperti Tomis (kini Constanța), yang menjadi pusat keuskupan paling penting di kawasan itu. Keberadaan sejumlah besar uskup dalam wilayah yang relatif terbatas menunjukkan bahwa komunitas Kristen telah terbentuk dan berkembang jauh sebelum agama Kristen memperoleh pengakuan resmi dari negara.
Scythia Minor juga bukan sekadar daerah perbatasan yang terpencil. Sebagai wilayah yang menghubungkan Balkan, Laut Hitam, dan dunia Mediterania Timur, kawasan ini menjadi jalur penting bagi pertukaran gagasan, perdagangan, dan kehidupan gerejawi. Para uskup dari Tomis dan kota-kota sekitarnya ikut mengambil bagian dalam kehidupan Gereja universal, menghadiri sinode-sinode, serta menjaga hubungan dengan pusat-pusat Kekristenan besar seperti Konstantinopel dan Antiokhia. Dengan demikian, komunitas Kristen di wilayah Rumania modern sejak awal telah menjadi bagian dari jaringan Gereja yang lebih luas, bukan berkembang secara terisolasi.
Kota Tomis inilah yang kelak menjadi tempat kelahiran salah satu Bapa Gereja besar, St. Yohanes Kasianus, seorang biarawan dan penulis rohani abad kelima yang karyanya sangat memengaruhi perkembangan monastisisme baik di Timur maupun di Barat. Melalui tulisan-tulisannya mengenai kehidupan para rahib Mesir, doa batin, dan perjuangan melawan hawa nafsu, St. Yohanes Kasianus menjadi salah satu jembatan intelektual dan spiritual terpenting antara tradisi monastik Timur dan dunia Kristen Latin di Barat. Kehadirannya menjadi simbol dari posisi unik wilayah Rumania yang sejak awal berada di persimpangan dua tradisi besar Kekristenan.
Para Martir Niculițel dan Penganiayaan Diokletianus
Sebagaimana Gereja-Gereja kuno lainnya di seluruh Kekaisaran Romawi, komunitas Kristen di Dacia dan Scythia Minor mengalami gelombang penganiayaan yang berat, khususnya pada masa pemerintahan Kaisar Diokletianus di awal abad keempat. Banyak umat Kristen di kawasan ini menemui kemartiran karena menolak meninggalkan iman mereka kepada Kristus.
Penganiayaan Diokletianus yang dimulai pada tahun 303 merupakan salah satu penganiayaan paling luas dan paling sistematis dalam seluruh sejarah Romawi. Gereja-gereja diperintahkan untuk ditutup, Kitab Suci disita dan dibakar, para uskup ditangkap, dan umat Kristen dipaksa mempersembahkan korban kepada dewa-dewa negara. Wilayah-wilayah di sepanjang Sungai Donau, termasuk Scythia Minor, tidak luput dari kebijakan tersebut. Dalam suasana inilah banyak orang Kristen memilih kesetiaan kepada Kristus meskipun harus menghadapi penyiksaan, pemenjaraan, atau kematian. Salah satu kesaksian paling berharga dari periode ini ditemukan secara arkeologis pada tahun 1971 di desa Niculițel, Dobrogea, ketika para arkeolog menemukan relik empat martir yang diyakini gugur pada masa penganiayaan Diokletianus, bersama dua martir lain dari generasi sebelumnya. Pada makam tersebut ditemukan inskripsi Yunani yang menyebut nama-nama para martir Zoticus, Attalus, Camasius, dan Philip, menjadikan penemuan ini salah satu temuan arkeologis Kristen paling penting di seluruh Eropa Tenggara.
Penemuan Niculițel memiliki arti yang jauh melampaui nilai arkeologis semata. Untuk pertama kalinya, Gereja Rumania memperoleh bukti fisik yang secara langsung menghubungkan kehidupan Gereja modern dengan komunitas Kristen kuno yang hidup di wilayah yang sama lebih dari enam belas abad sebelumnya. Relik para martir tersebut memberikan kesaksian bahwa iman Kristen telah berakar di tanah Rumania jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan abad pertengahan, bahkan sebelum banyak bangsa Eropa lainnya menerima Injil. Penemuan para Martir Niculițel ini menjadi bukti fisik tertua yang pernah ditemukan mengenai kehidupan Kristen di wilayah yang kini menjadi Rumania, dan relik mereka hingga kini dihormati dan disemayamkan di Katedral Keselamatan Bangsa di Bucharest sebagai penghubung langsung antara Gereja Rumania modern dengan akar kemartirannya yang paling kuno. Dengan demikian, sejarah Gereja Rumania tidak dimulai dari kerajaan-kerajaan abad pertengahan ataupun dari pembentukan negara modern, melainkan dari kesaksian para martir dan komunitas Kristen awal yang telah hidup di kawasan Donau dan Laut Hitam sejak masa Gereja Perdana.
Migrasi Bangsa dan Kesinambungan Iman
Setelah runtuhnya kekuasaan Romawi secara resmi di Dacia, wilayah ini memasuki periode yang oleh sejarawan disebut sebagai Zaman Migrasi, ketika berbagai bangsa seperti Goth, Hun, Avar, Slavia, dan kemudian bangsa Magyar silih berganti melintasi atau menetap di kawasan itu selama berabad-abad. Di tengah gelombang migrasi yang begitu besar ini, penduduk Daco-Romawi yang telah menerima iman Kristen berhasil mempertahankan baik bahasa Latin mereka maupun iman mereka, meski dalam bentuk komunitas-komunitas kecil yang tersebar dan sering kali terisolasi satu sama lain.
Pengaruh bangsa Slavia yang menetap di sekitar wilayah Rumania sejak abad keenam dan ketujuh membawa dampak besar bagi perkembangan Gereja berikutnya: bahasa Slavonik Gereja Lama menjadi bahasa liturgi resmi di wilayah Rumania selama berabad-abad, meski bahasa sehari-hari penduduknya tetap berupa dialek Latin yang berkembang menjadi bahasa Rumania modern. Situasi dwibahasa yang unik ini, Latin dalam percakapan namun Slavonik dalam ibadah, bertahan hingga abad ketujuh belas, ketika bahasa Rumania akhirnya mulai digunakan secara resmi dalam liturgi Gereja.
Berdirinya Kepangeranan Wallachia dan Moldavia
Pada abad keempat belas, dua kepangeranan Rumania mulai terbentuk sebagai entitas politik yang lebih terorganisasi: Kepangeranan Wallachia di selatan, yang berdiri sekitar tahun 1330, dan Kepangeranan Moldavia di timur, yang berdiri sekitar tahun 1359. Kedua kepangeranan ini, meski secara politik terpisah dan sering kali bersaing, sama-sama menjadi rumah bagi rakyat berbahasa Rumania dan sama-sama menganut iman Ortodoks sebagai agama negara mereka.
Metropolitanat Ungro-Wallachia didirikan pada 1359 di bawah yurisdiksi Patriarkat Ekumenis Konstantinopel, menjadi pusat kepemimpinan gerejawi bagi Wallachia. Metropolitanat Moldavia menyusul kemudian pada 1401, juga di bawah pengakuan Konstantinopel. Kedua metropolitanat ini menjadi fondasi struktural bagi kehidupan Gereja Rumania selama berabad-abad berikutnya, meski keduanya baru bersatu sepenuhnya menjadi satu Gereja nasional lebih dari lima ratus tahun kemudian.
St. Stefan Agung dan Pertahanan Iman Kristen
Salah satu tokoh paling dihormati dalam seluruh sejarah Gereja dan bangsa Rumania adalah St. Stefan Sang Agung (Ștefan cel Mare), yang memerintah Moldavia dari tahun 1457 hingga 1504. Ia dikenal luas sebagai pembela gigih iman Kristen dan kedaulatan Moldavia melawan tekanan besar dari Kesultanan Utsmaniyah yang saat itu terus meluas di seluruh kawasan Balkan dan Eropa Timur. Dalam sebuah pernyataan termasyhur pada tahun 1475, ia memperingatkan kekuatan-kekuatan Barat bahwa jika Moldavia jatuh, seluruh dunia Kristen akan berada dalam bahaya besar, karena Moldavia adalah gerbang terakhir yang menahan laju penaklukan Ottoman ke jantung Eropa.
Stefan memiliki tradisi yang begitu khas: setiap kali memenangkan pertempuran melawan musuh-musuhnya, ia mendirikan sebuah gereja atau biara baru sebagai ucapan syukur kepada Allah, sehingga sepanjang masa pemerintahannya yang panjang, ia membangun lebih dari empat puluh gereja dan biara di seluruh Moldavia, termasuk sejumlah biara termasyhur dengan lukisan dinding luar yang begitu khas dan indah, seperti Biara Voroneț dan Biara Putna, yang hingga kini diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Karena jasanya yang begitu besar bagi Gereja dan bangsa, ia dikanonisasi oleh Gereja Ortodoks Rumania pada tahun 1992 dan dihormati sebagai St. Stefan Sang Agung dan Suci, dengan gelar tambahan Atlet Kristus yang pernah disematkan kepadanya oleh Paus Sixtus IV dari Roma sendiri, meski ia tetap teguh dalam iman Ortodoks sepanjang hidupnya.
St. Daniil Sang Pertapa dan Kehidupan Monastik Moldavia
Mendampingi St. Stefan Sang Agung dalam perjalanan spiritualnya adalah St. Daniil Sang Pertapa (Daniil Sihastrul), seorang biarawan dan bapa rohani yang menjadi penasihat spiritual utama sang pangeran. Menurut tradisi Gereja Rumania, sebelum menghadapi pertempuran-pertempuran besar, Stefan senantiasa mengunjungi Daniil di pertapaannya yang terpencil untuk meminta doa dan nasihat rohani, dan konon Daniil pernah menubuatkan kemenangan besar Stefan dalam Pertempuran Vaslui tahun 1475 melawan pasukan Ottoman.
Daniil kemudian menjadi kepala biara di Biara Voroneț, salah satu biara yang didirikan Stefan sendiri, dan hidupnya yang begitu saleh serta pengaruh rohaninya yang besar terhadap kepemimpinan Moldavia menjadikannya salah satu tokoh monastik paling dihormati dalam sejarah Rumania. Ia dikanonisasi oleh Gereja Ortodoks Rumania pada tahun 1992, bersamaan dengan kanonisasi St. Stefan Sang Agung sendiri, sebagai pengakuan atas peran mereka berdua yang saling melengkapi dalam menjaga iman dan kedaulatan bangsa Rumania pada masa yang begitu genting.
Gereja Ortodoks di Transylvania
Berbeda dengan Wallachia dan Moldavia yang mempertahankan kedaulatan mereka sebagai kepangeranan otonom di bawah pengaruh Ottoman, wilayah Transylvania sejak abad kesebelas berada di bawah kekuasaan Kerajaan Hungaria yang beragama Katolik Roma, dan kemudian di bawah Kekaisaran Habsburg Austria. Situasi ini menempatkan umat Ortodoks Rumania di Transylvania dalam kedudukan yang jauh lebih sulit dibandingkan saudara-saudara mereka di selatan dan timur Pegunungan Karpatia, karena mereka harus hidup sebagai minoritas keagamaan di tengah penguasa yang menganut tradisi Kristen Barat.
Tekanan ini mencapai puncaknya pada akhir abad ketujuh belas, ketika pihak Habsburg mendorong terjadinya persatuan gerejawi antara sebagian umat Ortodoks Transylvania dengan Gereja Katolik Roma pada tahun 1698 dan 1700, menciptakan sebuah Gereja Katolik Yunani (Gereja Uniate) yang mengikuti ritus Bizantium namun mengakui otoritas Paus Roma. Persatuan ini menimbulkan perpecahan mendalam di kalangan umat Rumania Transylvania yang bertahan hingga hari ini, dengan sebagian tetap setia pada Ortodoksi sementara sebagian lain mengikuti Gereja Katolik Yunani yang baru terbentuk. Salah satu tokoh terbesar yang berjuang mempertahankan dan memperkuat kembali Ortodoksi di Transylvania pada abad kesembilan belas adalah St. Andrei Șaguna, Metropolitan Transylvania dari 1864 hingga 1873, yang mendirikan ratusan sekolah dan berjasa besar bagi kebangkitan pendidikan serta identitas budaya Rumania di wilayah itu, dan kemudian dikanonisasi oleh Gereja Ortodoks Rumania.
St. Constantin Brâncoveanu dan Kemartiran di Konstantinopel
Salah satu kisah kemartiran paling menggugah dalam sejarah Gereja Rumania adalah kisah St. Constantin Brâncoveanu, yang memerintah sebagai Pangeran Wallachia dari tahun 1688 hingga 1714. Pemerintahannya yang panjang menjadi salah satu masa paling gemilang bagi kebudayaan dan seni Rumania, dengan gaya arsitektur khas yang kini dikenal sebagai gaya Brâncovenesc berkembang pesat, memadukan unsur Bizantium, Barok Italia, dan tradisi Rumania lokal secara begitu harmonis. Ia juga dikenal sebagai dermawan besar bagi Gereja, mendirikan rumah sakit di Biara Brâncoveanu, sementara istrinya Maria mendirikan rumah sakit lain di Biara Hurezi.
Namun pada tahun 1714, setelah dicurigai menjalin hubungan rahasia dengan kekuatan-kekuatan Kristen Eropa yang menentang Ottoman, Brâncoveanu digulingkan dari takhtanya oleh Sultan Ahmed III dan dibawa dalam tahanan ke Konstantinopel bersama istri dan seluruh keluarganya. Di sana, pada tanggal 15 Agustus 1714, tepat pada hari ulang tahunnya sendiri, ia bersama keempat putranya, Constantin, Ștefan, Radu, dan Matei, serta menantunya, dieksekusi mati oleh pihak Ottoman setelah menolak tawaran pengampunan yang mensyaratkan mereka meninggalkan iman Kristen dan memeluk Islam. Menurut catatan sejarah, Brâncoveanu bahkan menguatkan putra-putranya sendiri untuk tetap teguh dalam iman hingga akhir, sebelum akhirnya ia sendiri dipenggal setelah menyaksikan kematian seluruh anak-anaknya. Karena kesetiaan mereka yang begitu luar biasa hingga maut, Constantin Brâncoveanu beserta keempat putra dan menantunya dikanonisasi bersama-sama oleh Gereja Ortodoks Rumania pada tahun 1992 sebagai Para Martir Brâncoveanu, dan relik mereka kini disemayamkan di Katedral Keselamatan Bangsa di Bucharest.
Masa Fanariot dan Tekanan Politik Ottoman
Sepanjang abad kedelapan belas hingga awal abad kesembilan belas, Wallachia dan Moldavia berada di bawah apa yang dikenal sebagai rezim Fanariot, sebuah sistem di mana Kesultanan Utsmaniyah menunjuk langsung para pangeran dari kalangan keluarga-keluarga Yunani terpandang di distrik Phanar, Konstantinopel, untuk memerintah kedua kepangeranan tersebut, alih-alih membiarkan bangsawan lokal Rumania naik takhta. Periode ini membawa pengaruh budaya dan bahasa Yunani yang cukup besar dalam kehidupan Gereja dan istana Rumania, meski di sisi lain juga memicu perlawanan dan kebangkitan kesadaran nasional Rumania yang semakin menguat menjelang akhir periode ini.
Meskipun berada di bawah tekanan politik yang berat dan sering kali eksploitatif, kehidupan Gereja Ortodoks tetap berlangsung selama periode Fanariot ini, dengan sejumlah biara dan sekolah teologi tetap berfungsi, dan pencetakan buku-buku liturgi dalam bahasa Rumania terus berkembang, melanjutkan warisan yang telah dirintis lebih dari satu abad sebelumnya oleh tokoh-tokoh seperti Metropolitan Antim dari Iberia, seorang uskup kelahiran Georgia yang menjadi pencetak dan penerjemah besar bagi Gereja Rumania pada awal abad kedelapan belas sebelum akhirnya ia sendiri menemui kemartiran dan kemudian dikanonisasi sebagai St. Antim dari Iberia.
Persatuan Kepangeranan dan Menuju Kemerdekaan Gerejawi
Titik balik besar bagi bangsa dan Gereja Rumania terjadi pada tahun 1859, ketika Wallachia dan Moldavia bersatu di bawah satu pemimpin, Alexandru Ioan Cuza, membentuk cikal bakal negara Rumania modern. Cuza kemudian melancarkan sejumlah reformasi besar, termasuk sekularisasi tanah-tanah biara pada tahun 1863 yang secara drastis mengurangi kekayaan dan pengaruh ekonomi Gereja, namun di sisi lain juga mempercepat proses menuju kemandirian administratif Gereja Rumania dari pengaruh asing.
Setelah Rumania memperoleh kemerdekaan penuhnya dari Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1877 dan diakui sebagai kerajaan merdeka pada tahun 1881, langkah selanjutnya yang logis adalah memperoleh kemandirian gerejawi penuh yang sejalan dengan kemerdekaan politik yang baru diraih. Setelah negosiasi panjang yang dipimpin antara lain oleh Metropolitan Calinic Miclescu, akhirnya pada tanggal 25 April 1885, Patriark Ekumenis Ioakim IV di Konstantinopel mengeluarkan tomos resmi yang mengakui otosefali penuh Gereja Ortodoks Rumania, memberikan Gereja ini kemandirian administratif sepenuhnya setelah berabad-abad berada di bawah yurisdiksi Konstantinopel.
Penyatuan Besar 1918 dan Persiapan Menuju Patriarkat
Perang Dunia Pertama membawa perubahan besar dan menentukan bagi peta politik Eropa Timur, dan Rumania menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari perubahan ini. Pada tahun 1918, wilayah Transylvania, Bessarabia, dan Bukovina, yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Austria-Hongaria atau Kekaisaran Rusia, bersatu dengan Kerajaan Rumania, membentuk apa yang dikenal sebagai Rumania Raya (România Mare), sebuah negara yang wilayahnya jauh lebih luas dari sebelumnya.
Penyatuan politik yang begitu besar ini membawa konsekuensi langsung bagi kehidupan Gereja: berbagai komunitas Ortodoks Rumania yang sebelumnya terpecah di bawah yurisdiksi gerejawi yang berbeda-beda, sebagian di bawah Konstantinopel, sebagian di bawah Gereja Rusia, dan sebagian lagi di bawah struktur Habsburg, kini perlu disatukan kembali menjadi satu Gereja nasional yang utuh. Pada 18 dan 31 Desember 1919, Miron Cristea, mantan Uskup Caransebeș yang dikenal sebagai pendukung gigih Penyatuan Besar, terpilih sebagai Metropolitan Primata Gereja Rumania yang telah bersatu ini, sebuah langkah penting menuju status yang lebih tinggi lagi yang akan segera menyusul.
Pendirian Patriarkat Rumania
Salah satu kisah kemartiran paling menggugah dalam sejarah Gereja Rumania adalah kisah St. Constantin Brâncoveanu, yang memerintah sebagai Pangeran Wallachia dari tahun 1688 hingga 1714. Pemerintahannya yang panjang menjadi salah satu masa paling gemilang bagi kebudayaan dan seni Rumania, dengan gaya arsitektur khas yang kini dikenal sebagai gaya Brâncovenesc berkembang pesat, memadukan unsur Bizantium, Barok Italia, dan tradisi Rumania lokal secara begitu harmonis. Ia juga dikenal sebagai dermawan besar bagi Gereja, mendirikan rumah sakit di Biara Brâncoveanu, sementara istrinya Maria mendirikan rumah sakit lain di Biara Hurezi.
Namun pada tahun 1714, setelah dicurigai menjalin hubungan rahasia dengan kekuatan-kekuatan Kristen Eropa yang menentang Ottoman, Brâncoveanu digulingkan dari takhtanya oleh Sultan Ahmed III dan dibawa dalam tahanan ke Konstantinopel bersama istri dan seluruh keluarganya. Di sana, pada tanggal 15 Agustus 1714, tepat pada hari ulang tahunnya sendiri, ia bersama keempat putranya, Constantin, Ștefan, Radu, dan Matei, serta menantunya, dieksekusi mati oleh pihak Ottoman setelah menolak tawaran pengampunan yang mensyaratkan mereka meninggalkan iman Kristen dan memeluk Islam. Menurut catatan sejarah, Brâncoveanu bahkan menguatkan putra-putranya sendiri untuk tetap teguh dalam iman hingga akhir, sebelum akhirnya ia sendiri dipenggal setelah menyaksikan kematian seluruh anak-anaknya. Karena kesetiaan mereka yang begitu luar biasa hingga maut, Constantin Brâncoveanu beserta keempat putra dan menantunya dikanonisasi bersama-sama oleh Gereja Ortodoks Rumania pada tahun 1992 sebagai Para Martir Brâncoveanu, dan relik mereka kini disemayamkan di Katedral Keselamatan Bangsa di Bucharest.
Patriark Miron Cristea dan Nicodim Munteanu
Sebagai Patriark pertama Rumania, Miron Cristea memainkan peranan yang sangat besar tidak hanya dalam kehidupan Gereja tetapi juga dalam kehidupan politik nasional. Ia memperkuat kedudukan internasional Gereja Rumania melalui berbagai kunjungan diplomatik ke luar negeri, sembari terus memperjuangkan otonomi gerejawi dan persatuan nasional di dalam negeri. Pada tahun 1938, di tengah krisis politik yang melanda Rumania, Raja Carol II bahkan menunjuknya sebagai Perdana Menteri Rumania, sebuah jabatan langka yang dipegangnya hingga wafatnya pada 6 Maret 1939.
Penerusnya, Patriark Nicodim Munteanu, memimpin Gereja dari tahun 1939 hingga 1948, sebuah periode yang penuh gejolak akibat Perang Dunia Kedua dan awal pendudukan kekuatan komunis di Rumania. Dikenal sebagai seorang teolog produktif yang menerjemahkan banyak karya teologi Rusia ke dalam bahasa Rumania, masa kepemimpinannya menyaksikan pembentukan sejumlah keuskupan baru, termasuk di Oradea, Cluj, Constanța, Maramureș, dan Timișoara, memperkuat struktur administratif Gereja di seluruh wilayah Rumania Raya yang baru bersatu.
Penganiayaan pada Masa Komunis
Sejak berdirinya rezim komunis di Rumania pada tahun 1948, Gereja Ortodoks Rumania memasuki salah satu periode paling berat dalam seluruh sejarahnya. Pendidikan agama dihapuskan dari sekolah, ibadah di rumah sakit dan fasilitas militer dilarang, banyak institusi teologi ditutup paksa, katekisasi bagi kaum muda dilarang, dan berbagai penerbitan keagamaan diberangus. Lebih dari seribu imam Ortodoks ditangkap, dipenjara, atau dikirim ke kamp kerja paksa, termasuk kamp yang terkenal kejam di sepanjang pembangunan Kanal Donau-Laut Hitam, dengan sebagian di antaranya wafat di dalam tahanan dan sebagian besar sisanya baru dibebaskan pada tahun 1964.
Salah satu gerakan spiritual yang mengalami penganiayaan paling berat pada masa ini adalah gerakan Rugul Aprins (Semak Terbakar), sebuah kebangkitan spiritual mendalam yang berpusat di Biara Antim di Bucharest pada tahun 1940an, yang menekankan kembali praktik Doa Yesus dan kehidupan hesikastik. Banyak tokoh penting gerakan ini, termasuk sejumlah biarawan dan teolog terkemuka, ditangkap dan dipenjara oleh rezim komunis yang mencurigai kedalaman spiritual mereka sebagai ancaman ideologis. Di tengah tekanan yang begitu berat ini, Patriark Justinian Marina, yang memimpin Gereja dari 1948 hingga 1977, berusaha dengan penuh kehati-hatian menyeimbangkan antara mempertahankan kelangsungan hidup institusional Gereja dengan menjaga integritas iman umatnya, jalan yang hingga kini masih diperdebatkan oleh para sejarawan Gereja mengenai sejauh mana kompromi yang diambilnya dapat dibenarkan di tengah tekanan rezim yang begitu totaliter.
Kebangkitan Setelah Revolusi 1989
Setelah jatuhnya rezim komunis Nicolae Ceaușescu dalam Revolusi Rumania pada Desember 1989, Gereja Ortodoks Rumania memasuki era kebangkitan yang luar biasa pesat. Patriark Teoctist Arăpașu, yang memimpin dari 1986 hingga wafatnya pada 2007, memandu Gereja melewati masa transisi yang penuh tantangan ini, membuka kembali ratusan gereja dan biara yang sebelumnya ditutup atau dibatasi, memulihkan pendidikan teologi secara penuh, serta memulai proses kanonisasi sejumlah besar santo dan santa Rumania yang selama ini belum secara resmi diakui, termasuk kanonisasi bersejarah St. Stefan Sang Agung dan Para Martir Brâncoveanu pada 1992.
Pada masa Patriark Teoctist pula, hubungan dengan negara-negara tetangga mulai dinormalisasi kembali, termasuk kunjungan bersejarah Paus Yohanes Paulus II ke Bucharest pada tahun 1999, kunjungan kepausan pertama ke sebuah negara Ortodoks mayoritas sejak Skisma Besar 1054. Periode ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan luar biasa yang terus berlanjut hingga masa kepemimpinan penerusnya.
Patriark Daniel dan Katedral Keselamatan Bangsa
Sejak 30 September 2007, Patriarkat Rumania dipimpin oleh Patriark Daniel Ciobotea, seorang teolog dengan latar belakang akademik yang sangat kuat, pernah menempuh studi di Jerman dan Swiss serta mengajar di Institut Ekumenis Bossey sebelum kembali melayani Gereja Rumania. Di bawah kepemimpinannya, Gereja Rumania mengalami salah satu periode paling produktif dalam sejarah modernnya, dengan puluhan kanonisasi santo dan santa baru diproklamasikan, mencakup tokoh-tokoh seperti St. Antim dari Iberia, St. Yakobus dari Putna, serta berbagai biarawan dan uskup Rumania lainnya yang dihormati karena kesalehan dan pelayanan mereka.
Proyek paling monumental pada masa kepemimpinan Patriark Daniel adalah pembangunan Katedral Keselamatan Bangsa (Catedrala Mântuirii Neamului) di Bucharest, yang batu pertamanya diletakkan pada 29 November 2007 dan didedikasikan untuk Kenaikan Tuhan serta Rasul Andreas Yang Pertama Dipanggil. Altar utamanya ditahbiskan pada November 2018, bertepatan dengan peringatan seratus tahun Penyatuan Besar, dengan relik para Martir Niculițel dan St. Constantin Brâncoveanu ditempatkan langsung di dalam altar sebagai penghubung dengan akar iman paling kuno bangsa Rumania. Katedral ini, yang kini diakui sebagai salah satu gedung gereja Ortodoks terbesar di dunia berdasarkan volume bangunannya, menjadi simbol paling nyata dari kebangkitan luar biasa Gereja Ortodoks Rumania setelah puluhan tahun penindasan di bawah rezim komunis.
Wilayah Pelayanan dan Persoalan Moldova
Yurisdiksi Patriarkat Rumania saat ini mencakup seluruh wilayah Rumania, serta memiliki keuskupan-keuskupan aktif di Republik Moldova, sebuah negara tetangga yang sebagian besar penduduknya berbahasa Rumania dan secara historis pernah menjadi bagian dari Kepangeranan Moldavia sebelum dianeksasi Kekaisaran Rusia pada 1812. Kehadiran Gereja Rumania di Moldova, melalui apa yang dikenal sebagai Metropolitanat Bessarabia, telah lama menjadi sumber ketegangan dengan Patriarkat Moskwa, yang juga memiliki struktur keuskupannya sendiri di wilayah yang sama melalui Metropolitanat Chișinău dan Seluruh Moldova, menciptakan sebuah situasi yurisdiksi ganda yang belum sepenuhnya terselesaikan hingga hari ini.
Selain Rumania dan Moldova, Patriarkat Rumania juga memiliki jaringan keuskupan diaspora yang luas dan terus berkembang, melayani jutaan umat Rumania yang tinggal di Eropa Barat, terutama Italia, Spanyol, Jerman, Prancis, dan Britania Raya, serta di Amerika Utara dan Australia, sebagian besar akibat gelombang migrasi besar yang terjadi setelah runtuhnya komunisme pada 1989 ketika jutaan warga Rumania mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri.
Kehidupan Monastik dan Biara-Biara Bersejarah
Kehidupan monastik telah menjadi bagian yang sangat penting dari spiritualitas Rumania sejak masa paling awal Kekristenannya, dengan ratusan biara tersebar di seluruh wilayah negeri, dari biara-biara berlukisan indah di Moldavia utara hingga biara-biara pegunungan Wallachia. Biara Putna, yang didirikan St. Stefan Sang Agung pada 1466 dan menjadi tempat peristirahatannya sendiri, tetap menjadi salah satu pusat ziarah paling penting bagi umat Rumania hingga hari ini, sering disebut sebagai Yerusalem bangsa Rumania.
Selain Putna, biara-biara berlukisan Moldavia seperti Voroneț, Sucevița, Moldovița, dan Humor, yang dindingnya dihiasi lukisan fresko luar biasa dari abad keenam belas yang menggambarkan berbagai kisah Alkitab dan kehidupan para santo, kini diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dan menjadi salah satu warisan seni sakral paling khas dalam seluruh dunia Ortodoks. Tradisi monastik ini, meski sempat sangat tertekan pada masa komunis, mengalami kebangkitan luar biasa sejak 1989, dengan ribuan panggilan baru menjadi biarawan dan biarawati yang mengisi kembali biara-biara bersejarah maupun mendirikan komunitas-komunitas monastik baru di seluruh negeri.
Spiritualitas Gereja Ortodoks Rumania
Spiritualitas Gereja Ortodoks Rumania dibentuk oleh beberapa unsur utama yang saling menopang sepanjang sejarahnya yang panjang. Yang pertama adalah kesadaran mendalam akan warisan Latin yang begitu khas, sebuah identitas yang menjadikan Gereja Rumania sebagai jembatan unik antara dunia Latin dan dunia Ortodoks Timur, sebuah kesadaran yang terus dijaga dan dirayakan hingga hari ini. Yang kedua adalah penghormatan yang begitu mendalam terhadap para pangeran suci dan martir yang mempertahankan iman di tengah tekanan Ottoman, seperti St. Stefan Sang Agung dan Para Martir Brâncoveanu, yang mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Kristus harus dijaga bahkan hingga harga tertinggi sekalipun.
Yang ketiga adalah tradisi hesikastik dan kehidupan doa yang mendalam, yang diwariskan dari St. Daniil Sang Pertapa hingga gerakan Rugul Aprins pada abad kedua puluh, menekankan pentingnya Doa Yesus dan keheningan kontemplatif sebagai jalan menuju persatuan dengan Allah. Dan yang keempat adalah ketahanan yang telah teruji berkali-kali sepanjang sejarah, sebuah Gereja yang telah bertahan melewati penganiayaan Romawi kuno, migrasi bangsa-bangsa, tekanan Ottoman selama berabad-abad, perpecahan Transylvania, hingga penganiayaan brutal komunisme abad kedua puluh, namun tetap bangkit kembali dengan vitalitas yang begitu luar biasa pada setiap kesempatan.
Makna Patriarkat Rumania bagi Gereja Universal
Patriarkat Rumania memiliki makna yang sangat besar dan khas bagi keseluruhan Gereja Ortodoks dan bagi Kekristenan universal secara umum. Sebagai satu-satunya Gereja Ortodoks besar yang berbahasa Latin, Rumania menjadi saksi hidup bahwa iman Ortodoks tidak terikat pada satu rumpun bahasa atau budaya tertentu, melainkan dapat berakar begitu dalam dan begitu khas dalam identitas Latin sekalipun, sebuah kesaksian yang begitu berharga di tengah dunia Ortodoks yang didominasi oleh warisan Yunani dan Slavia. Warisan arsitektur biara yang begitu indah, kesaksian kemartiran yang begitu mendalam, serta kebangkitan luar biasa yang disaksikan dunia setelah puluhan tahun penindasan komunis, semuanya menjadikan Gereja Rumania sebuah kesaksian yang unik dan penuh harapan bagi seluruh dunia Kristen.
Penutup
Patriarkat Rumania adalah salah satu Gereja Ortodoks yang perjalanannya begitu unik dalam seluruh sejarah Kekristenan, berakar pada pertemuan yang begitu khas antara warisan Latin Kekaisaran Romawi dan iman Ortodoks Timur. Dari penginjilan St. Andreas di Scythia Minor pada abad pertama hingga pembangunan Katedral Keselamatan Bangsa pada abad kedua puluh satu, Gereja ini telah melewati penganiayaan Romawi kuno, migrasi bangsa-bangsa yang berabad-abad lamanya, kejayaan spiritual di bawah St. Stefan Sang Agung, kemartiran yang begitu mendalam pada diri St. Constantin Brâncoveanu, tekanan panjang rezim Fanariot, perjuangan menuju otosefali dan status Patriarkat, hingga penganiayaan brutal komunisme yang berusaha memadamkan imannya sama sekali.
Namun sepanjang seluruh perjalanan yang begitu panjang dan sering kali begitu berat ini, identitasnya tetap bertahan tanpa pernah benar-benar padam. Patriarkat Rumania tetap menjadi penjaga warisan Latin Timur yang begitu khas, pewaris kesaksian para martir dan pangeran suci yang tak terhitung banyaknya, serta saksi hidup bahwa iman dapat bangkit kembali dengan vitalitas yang begitu luar biasa bahkan setelah tekanan sejarah yang paling berat sekalipun. Pesan utama Gereja Rumania tetap sama sejak masa St. Andreas hingga hari ini: iman kepada Kristus adalah warisan yang harus dijaga melintasi bahasa, bangsa, dan zaman, dan Gereja dipanggil untuk terus menjadi saksi kasih Allah bagi bangsa Rumania dan bagi seluruh dunia.