Patriarkat Serbia Gereja Ortodoks Serbia dan Warisan Iman di Balkan

Published on July 13, 2026 at 11:46 PM

Pendahuluan

Di antara Gereja-Gereja Ortodoks Timur, Gereja Ortodoks Serbia memiliki tempat yang sangat penting dalam sejarah Kekristenan Balkan. Gereja ini merupakan salah satu penjaga utama warisan iman Ortodoks, tradisi Bizantium, kehidupan monastik, serta budaya Kristen di wilayah Serbia dan sekitarnya.


Bagi masyarakat Serbia, Gereja bukan hanya sebuah lembaga keagamaan, tetapi juga tempat di mana iman, sejarah, pendidikan, dan identitas spiritual diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Sejarah Gereja Serbia merupakan perjalanan panjang yang melewati berbagai masa: penerimaan iman Kristen dari dunia Bizantium, pembentukan Gereja mandiri melalui Santo Sava, masa kejayaan kerajaan Serbia, penderitaan di bawah kekuasaan Ottoman, hingga kehidupan Gereja modern.

Di sepanjang sejarah tersebut, Gereja Serbia tetap melihat Kristus sebagai pusat kehidupan Gereja dan menjaga hubungan dengan seluruh keluarga besar Gereja Ortodoks Timur.


Awal Kekristenan di Wilayah Serbia

Wilayah Balkan telah mengenal Kekristenan sejak masa Gereja awal. Karena wilayah ini berada di antara dunia Romawi Barat dan Kekaisaran Bizantium, perkembangan Kekristenan di daerah tersebut dipengaruhi oleh berbagai tradisi Kristen kuno.

Ketika bangsa Slavia mulai menetap di Balkan sekitar abad ke-6 dan ke-7, mereka secara bertahap menerima iman Kristen melalui hubungan dengan Kekaisaran Bizantium. Proses penginjilan kepada bangsa Slavia membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat.

Bersama dengan iman Kristen, berkembang pula kehidupan liturgi, tulisan Slavonik, pendidikan Gereja, tradisi monastik, dan kebudayaan Kristen Timur. Dari sinilah akar kehidupan Ortodoks bangsa Serbia mulai terbentuk.


Hubungan Awal dengan Konstantinopel

Pada masa awal perkembangannya, Gereja Serbia berada dalam hubungan erat dengan Patriarkat Konstantinopel. Konstantinopel sebagai pusat Kekristenan Timur menjadi sumber utama bagi perkembangan teologi Ortodoks, tata ibadah, hukum Gereja, dan struktur kepemimpinan gerejawi.

Hubungan dengan Konstantinopel menunjukkan bahwa Gereja Serbia sejak awal merupakan bagian dari tradisi Ortodoks universal. Namun ketika masyarakat Serbia berkembang menjadi sebuah kerajaan yang lebih kuat, kebutuhan akan kehidupan Gereja yang lebih mandiri mulai muncul. Bangsa Serbia membutuhkan pemimpin Gereja yang dapat melayani keadaan lokal, membangun pendidikan rohani, dan memperkuat kehidupan umat.


Berdirinya Dinasti Nemanjić dan Perkembangan Gereja

Pada abad ke-12, Serbia mulai berkembang menjadi kekuatan politik yang lebih besar di Balkan. Salah satu tokoh penting dalam perkembangan ini adalah Stefan Nemanja, pendiri dinasti Nemanjić.

Dinasti ini memiliki peranan besar bukan hanya dalam pemerintahan, tetapi juga dalam perkembangan Gereja Serbia. Para penguasa Nemanjić membangun banyak gereja dan biara serta mendukung kehidupan monastik, karena mereka memahami bahwa kekuatan sebuah kerajaan Kristen tidak hanya bergantung pada politik dan militer, tetapi juga pada kehidupan rohani rakyatnya.

Dari lingkungan inilah kemudian muncul tokoh terbesar dalam sejarah Gereja Serbia: Santo Sava.


Santo Sava dan Panggilan Kehidupan Rohani

Santo Sava lahir sekitar tahun 1174 dengan nama Rastko Nemanjić, putra bungsu Stefan Nemanja. Sebagai anggota keluarga bangsawan, Rastko memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan sebagai penguasa, namun sejak muda ketertarikannya kepada kehidupan rohani jauh lebih besar.

Rastko meninggalkan kehidupan istana dan memilih jalan monastik. Ia pergi ke Gunung Athos, pusat kehidupan para rahib Ortodoks Timur, tempat ia menerima nama Sava.

Di Gunung Athos, Santo Sava mengalami pembentukan spiritual yang mendalam. Ia mempelajari Kitab Suci, tulisan para Bapa Gereja, kehidupan doa, tradisi liturgi, dan disiplin monastik. Pengalaman ini membentuk pandangannya bahwa pembaruan sebuah bangsa harus dimulai dari pembaruan kehidupan rohani.


Biara Hilandar dan Warisan Monastik Serbia

Salah satu karya besar Santo Sava adalah pendirian Biara Hilandar di Gunung Athos bersama ayahnya, Stefan Nemanja, yang kemudian menjadi rahib dengan nama Simeon.

Biara Hilandar menjadi pusat kehidupan rohani Serbia di luar tanah airnya. Selama berabad-abad, Hilandar berperan sebagai tempat pendidikan para rahib, pusat doa, penjaga manuskrip, tempat pelestarian tradisi Serbia, dan penghubung Serbia dengan dunia Ortodoks Timur.

Melalui Hilandar, Santo Sava menanamkan dasar kuat bagi spiritualitas Gereja Serbia yang menekankan doa, kehidupan monastik, dan kesetiaan kepada Tradisi Gereja.


Pembentukan Gereja Serbia Mandiri

Setelah kembali ke Serbia, Santo Sava melihat bahwa bangsa Serbia membutuhkan struktur Gereja yang lebih kuat. Pada masa itu, walaupun umat Serbia telah menerima iman Ortodoks, kepemimpinan gerejawi masih bergantung pada pusat-pusat Gereja yang lebih besar.

Santo Sava kemudian melakukan perjalanan ke Kekaisaran Bizantium dan berhubungan dengan Patriarkat Konstantinopel. Pada tahun 1219, Gereja Serbia memperoleh pengakuan sebagai Gereja mandiri, dan Santo Sava ditahbiskan sebagai uskup agung pertama Serbia.

Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak terbesar dalam sejarah Serbia karena Gereja memiliki kepemimpinan sendiri, keuskupan dapat dibentuk sesuai kebutuhan masyarakat, pendidikan imam berkembang, dan kehidupan rohani umat semakin kuat.

Kemandirian Gereja Serbia tidak berarti memisahkan diri dari Ortodoksi Timur, tetapi menjadi bagian dari perkembangan alami Gereja dalam keluarga Ortodoks.


Santo Sava sebagai Pemimpin Gereja

Sebagai uskup agung pertama Serbia, Santo Sava bekerja membangun dasar kehidupan Gereja. Ia mendirikan keuskupan, memperkuat biara, mengajar umat, serta membangun sistem pendidikan Gereja.

Santo Sava juga menyusun Zakonopravilo atau Nomokanon Santo Sava, sebuah kumpulan hukum Gereja yang menggabungkan tradisi Bizantium dengan aturan kehidupan Kristen. Melalui karya ini, ia menunjukkan bahwa Gereja memiliki tanggung jawab untuk membimbing manusia dalam seluruh kehidupan: iman, keluarga, masyarakat, dan hubungan sosial.

Sava dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati, dekat dengan umat, dan mengutamakan pelayanan.


Warisan Awal Santo Sava

Setelah wafat pada tahun 1236, Santo Sava dihormati sebagai salah satu tokoh terbesar dalam sejarah Gereja Serbia. Ia dikenang sebagai pendiri Gereja Serbia mandiri, pembangun kehidupan monastik, pendidik umat, penyusun hukum Gereja, dan teladan pelayanan Kristen.

Fondasi yang dibangun Santo Sava menjadi dasar bagi perkembangan Gereja Serbia pada abad-abad berikutnya. Melalui dirinya, Gereja Serbia memiliki identitas yang kuat: berakar dalam Tradisi Ortodoks Timur, tetapi memiliki kehidupan dan karakter khas bangsa Serbia.

Perkembangan Gereja Serbia Setelah Santo Sava

Setelah wafatnya Santo Sava pada tahun 1236, Gereja Serbia terus berkembang berdasarkan fondasi yang telah dibangunnya. Para penerusnya melanjutkan pekerjaan dalam memperkuat kehidupan liturgi, pendidikan Gereja, perkembangan biara, serta pembinaan umat.


Hubungan antara Gereja dan kerajaan Serbia menjadi semakin erat. Para penguasa Serbia melihat bahwa kehidupan rohani merupakan bagian penting dari kekuatan masyarakat. Pada masa ini, banyak gereja dan biara didirikan sebagai pusat doa, pendidikan, dan kebudayaan. Gereja tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi penjaga sejarah dan identitas bangsa Serbia.


Masa Kejayaan Kerajaan Serbia dan Berdirinya Patriarkat

Pada abad ke-14, Serbia mencapai masa kejayaan di bawah pemerintahan dinasti Nemanjić. Pada masa pemerintahan Stefan Dušan, wilayah Serbia berkembang menjadi salah satu kekuatan besar di Balkan. Seiring dengan perkembangan kerajaan, kedudukan Gereja Serbia juga semakin meningkat.

Pada tahun 1346, dalam sebuah sinode Gereja yang diadakan di Skopje, Gereja Serbia dinaikkan statusnya menjadi Patriarkat. Dengan perubahan ini, pemimpin Gereja Serbia tidak lagi hanya bergelar uskup agung, tetapi menjadi patriark. Peningkatan status ini menunjukkan perkembangan besar dalam kehidupan Gereja Serbia.

Patriarkat Serbia kemudian memiliki peranan penting dalam mengatur kehidupan gerejawi, mengembangkan pendidikan, membangun biara, menjaga tradisi Ortodoks, dan melayani masyarakat Kristen di wilayah yang luas.


Masa Keemasan Seni dan Monastisisme Serbia

Periode kejayaan Serbia juga menjadi masa perkembangan besar dalam seni Kristen dan kehidupan monastik. Banyak gereja dan biara dibangun dengan gaya khas Serbia yang menggabungkan tradisi Bizantium dengan unsur lokal. Tempat-tempat suci tersebut dihiasi dengan ikon, fresko, ukiran batu, dan manuskrip keagamaan.

Seni Gereja Serbia bukan hanya memiliki nilai keindahan, tetapi juga menjadi sarana pengajaran iman. Melalui gambar Kristus, Theotokos, para rasul, dan para kudus, umat diajak untuk memahami misteri keselamatan Allah.

Biara-biara seperti Studenica, Žiča, dan tempat-tempat suci lainnya menjadi pusat spiritual yang penting. Di dalam biara, para rahib menjaga kehidupan doa, menyalin teks, mendidik generasi baru, dan mempertahankan tradisi Gereja.


Hubungan Gereja dan Kerajaan Serbia

Dalam kehidupan Serbia abad pertengahan, Gereja dan kerajaan memiliki hubungan yang erat. Para penguasa Serbia mendukung pembangunan gereja dan biara, sementara Gereja memberikan bimbingan spiritual kepada masyarakat. Namun Gereja tetap memiliki tugas utamanya sebagai penjaga iman.

Para pemimpin Gereja berusaha menjaga agar kehidupan politik tetap berada dalam nilai-nilai Kristen: keadilan, belas kasih, kerendahan hati, dan tanggung jawab kepada Allah. Warisan masa ini kemudian menjadi bagian penting dari ingatan spiritual Gereja Serbia.


Jatuhnya Serbia ke Tangan Ottoman

Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, kekuatan Ottoman mulai berkembang di Balkan. Kekalahan Serbia dalam berbagai pertempuran akhirnya menyebabkan wilayah Serbia jatuh ke bawah kekuasaan Kekaisaran Ottoman. Perubahan ini membawa masa yang sangat sulit bagi masyarakat Serbia dan Gereja mereka.

Sebagai komunitas Kristen yang hidup di bawah pemerintahan Islam, Gereja Serbia menghadapi berbagai tantangan: kehilangan kekuasaan politik, perubahan struktur sosial, pembatasan kehidupan Gereja, dan kerusakan beberapa tempat suci.

Namun Gereja tetap menjadi pusat kehidupan umat. Dalam keadaan sulit, biara-biara menjadi tempat untuk mempertahankan iman Ortodoks, tradisi liturgi, bahasa, sejarah, dan kebudayaan Serbia.


Peranan Biara dalam Masa Ottoman

Selama masa Ottoman, biara-biara Serbia memiliki peranan yang sangat besar. Para rahib tidak hanya menjalani kehidupan doa, tetapi juga menjaga warisan rohani dan budaya. Mereka menyalin manuskrip, mengajarkan iman, memelihara tradisi liturgi, menerima peziarah, dan menjadi tempat perlindungan spiritual bagi umat.

Melalui biara, hubungan antara generasi masa lalu dan masa depan tetap terjaga. Bagi masyarakat Serbia, Gereja menjadi salah satu tempat utama untuk mempertahankan identitas mereka.


Pemulihan Kehidupan Gereja Serbia

Pada masa Ottoman, struktur Patriarkat Serbia mengalami perubahan besar. Walaupun Gereja tetap hidup, kedudukannya sebagai Patriarkat menghadapi tekanan politik. Pada tahun 1766, Patriarkat Serbia secara resmi dihapuskan oleh pemerintahan Ottoman, dan wilayah Gereja Serbia kemudian ditempatkan kembali di bawah yurisdiksi Patriarkat Konstantinopel.

Peristiwa ini menjadi masa yang penuh tantangan bagi umat Serbia karena mereka kehilangan struktur patriarkal yang telah menjadi bagian dari sejarah mereka. Namun kehidupan Gereja tidak berhenti. Keuskupan, biara, imam, dan keluarga Kristen tetap mempertahankan iman Ortodoks. Tradisi yang diwariskan Santo Sava terus hidup melalui kehidupan umat.


Kebangkitan Nasional Serbia dan Gereja

Pada abad ke-18 dan ke-19, bangsa Serbia mengalami kebangkitan nasional. Dalam proses ini, Gereja memainkan peranan penting dalam menjaga pendidikan, bahasa Serbia, tradisi budaya, dan hubungan dengan sejarah Kristen masa lalu.

Gereja menjadi salah satu lembaga yang membantu masyarakat mempertahankan identitas mereka setelah berabad-abad berada di bawah kekuasaan asing. Para pemimpin Gereja mendukung perkembangan pendidikan dan pembaruan kehidupan masyarakat.


Kembalinya Otonomi Gereja Serbia

Setelah Serbia memperoleh kemerdekaan modern, hubungan Gereja Serbia dengan Konstantinopel mengalami perkembangan baru. Pada tahun 1879, Gereja Serbia memperoleh pengakuan sebagai Gereja yang memiliki otonomi.

Hal ini menjadi langkah penting menuju pemulihan penuh status Gereja Serbia. Dengan berkembangnya negara Serbia dan perubahan politik Balkan, kebutuhan untuk menyatukan komunitas Ortodoks Serbia semakin besar.


Pemulihan Patriarkat Serbia

Pada tahun 1920, setelah Perang Dunia I dan terbentuknya Kerajaan Serbia, Kroasia, dan Slovenia, berbagai wilayah Gereja Serbia disatukan kembali. Pada saat itu, status Patriarkat Serbia dipulihkan.

Pemulihan ini menandai kembalinya Gereja Serbia sebagai salah satu Patriarkat utama dalam dunia Ortodoks Timur. Sejak saat itu, Gereja Ortodoks Serbia kembali memiliki struktur patriarkal yang melayani umat Serbia di berbagai wilayah.


Warisan Sejarah Patriarkat Serbia

Perjalanan Gereja Serbia dari masa Santo Sava hingga pemulihan Patriarkat menunjukkan ketahanan iman yang luar biasa. Gereja ini mengalami masa kejayaan, kehilangan kebebasan, tekanan politik, dan perubahan besar. Namun tradisi Ortodoks tetap dipelihara melalui liturgi, keluarga, biara, dan kehidupan umat.


Warisan ini menjadi dasar bagi Gereja Serbia dalam menghadapi tantangan abad modern.

Gereja Serbia pada Abad ke-20

Memasuki abad ke-20, Gereja Ortodoks Serbia menghadapi berbagai perubahan besar yang terjadi di Balkan.

Memasuki abad ke-20, Gereja Ortodoks Serbia menghadapi berbagai perubahan besar yang terjadi di Balkan. Setelah pemulihan Patriarkat Serbia pada tahun 1920, Gereja menjadi salah satu lembaga spiritual utama dalam kehidupan masyarakat Serbia dan wilayah sekitarnya. Gereja berusaha membangun kembali kehidupan setelah masa panjang konflik politik dan perubahan kekuasaan.

Pada periode ini, Gereja mengembangkan pendidikan teologi, penerbitan gerejawi, kehidupan monastik, pelayanan pastoral, dan kegiatan sosial. Namun abad ke-20 juga menjadi masa yang penuh penderitaan bagi Gereja Serbia.


Perang Dunia dan Masa Penderitaan Gereja

Perang Dunia II membawa kehancuran besar bagi banyak komunitas di Balkan. Gereja Ortodoks Serbia mengalami kehilangan besar akibat peperangan. Banyak gereja, biara, lembaga pendidikan, dan komunitas umat mengalami kerusakan, dan banyak rohaniwan serta umat turut mengalami penderitaan akibat konflik.

Masa ini menjadi salah satu periode paling sulit dalam sejarah Gereja Serbia, tetapi sekaligus menjadi kesaksian tentang ketekunan iman umat yang tetap mempertahankan kehidupan Gereja dalam keadaan yang berat.


Gereja Serbia di Bawah Pemerintahan Komunis Yugoslavia

Setelah Perang Dunia II, Yugoslavia berada di bawah pemerintahan komunis. Seperti banyak Gereja di negara-negara komunis, Gereja Ortodoks Serbia menghadapi berbagai pembatasan. Pemerintah membatasi peranan agama dalam kehidupan publik dan banyak aset Gereja mengalami perubahan status.

Gereja menghadapi tantangan seperti berkurangnya pengaruh sosial, pembatasan kegiatan keagamaan, pengawasan pemerintah, dan perubahan budaya masyarakat. Namun kehidupan Gereja tetap berlangsung. Iman dipelihara melalui keluarga, paroki, doa pribadi, kehidupan liturgi, dan komunitas kecil umat.

Pengalaman ini memperkuat kesadaran bahwa kehidupan Gereja tidak bergantung hanya pada keadaan politik, tetapi terutama pada hubungan umat dengan Kristus.


Kosovo dan Makna Spiritual bagi Gereja Serbia

Kosovo memiliki tempat yang sangat penting dalam sejarah dan spiritualitas Gereja Serbia. Wilayah ini menjadi salah satu pusat perkembangan awal Gereja Serbia dan memiliki banyak tempat suci yang berkaitan dengan sejarah kerajaan serta kehidupan monastik. Biara-biara kuno di Kosovo menjadi saksi perjalanan panjang iman Serbia.

Bagi Gereja Serbia, Kosovo bukan hanya sebuah wilayah geografis, tetapi juga memiliki makna rohani yang berkaitan dengan warisan Santo Sava, kehidupan para rahib, perjuangan mempertahankan iman, dan ingatan akan sejarah Gereja. Karena itu, pelestarian warisan gerejawi di Kosovo menjadi salah satu perhatian penting Gereja Serbia.


Tradisi Keluarga dan Kehidupan Rohani Serbia

Salah satu ciri khas kehidupan Ortodoks Serbia adalah kuatnya hubungan antara iman dan keluarga. Gereja tidak hanya hidup dalam bangunan ibadah, tetapi juga dalam kehidupan rumah tangga umat.
Tradisi yang sangat dikenal adalah Slava, yaitu perayaan keluarga untuk menghormati santo pelindung keluarga.

Dalam Slava, keluarga berkumpul dalam doa, mengucap syukur kepada Allah, dan mengenang hubungan mereka dengan Gereja. Tradisi ini menunjukkan bagaimana iman Ortodoks diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi banyak keluarga Serbia, Slava menjadi simbol hubungan antara keluarga, Gereja, para kudus, dan kehidupan dalam Kristus.


Liturgi dan Spiritualitas Gereja Serbia

Seperti seluruh Gereja Ortodoks Timur, pusat kehidupan Gereja Serbia adalah Liturgi Ilahi. Dalam liturgi, umat mengalami pewartaan Injil, doa bersama, persekutuan dengan Kristus melalui Ekaristi, dan hubungan dengan seluruh Gereja sepanjang sejarah.

Spiritualitas Serbia juga sangat dipengaruhi oleh tradisi monastik. Kehidupan para rahib menjadi teladan tentang doa, pertobatan, kesederhanaan, dan pencarian persatuan dengan Allah. Warisan Santo Sava terus menjadi dasar spiritual bagi kehidupan Gereja Serbia.


Seni, Ikon, dan Warisan Gerejawi

Gereja Serbia memiliki warisan seni Kristen yang sangat kaya. Banyak gereja dan biara dihiasi dengan fresko, ikon, manuskrip, dan arsitektur khas Ortodoks. Seni gerejawi ini bukan hanya peninggalan budaya, tetapi merupakan bagian dari kehidupan iman.

Melalui ikon dan fresko, umat diajak untuk melihat sejarah keselamatan Allah dan merenungkan kehidupan Kristus serta para kudus. Warisan seni ini menjadi salah satu kontribusi penting Gereja Serbia bagi dunia Ortodoks.


Hubungan dengan Gereja Ortodoks Dunia

Sebagai bagian dari keluarga besar Gereja Ortodoks Timur, Gereja Serbia memiliki hubungan dengan Gereja-Gereja Ortodoks lainnya. Hubungan ini diwujudkan melalui pertemuan para pemimpin Gereja, kerja sama teologi, pertukaran kunjungan gerejawi, dan kehidupan liturgi bersama.

Gereja Serbia mempertahankan identitasnya sendiri, tetapi tetap melihat dirinya sebagai bagian dari satu Tradisi Ortodoks yang diwariskan sejak zaman para rasul.


Tantangan Gereja Serbia Masa Kini

Pada zaman modern, Gereja Serbia menghadapi berbagai tantangan baru. Beberapa di antaranya adalah sekularisasi masyarakat, perubahan nilai budaya, berkurangnya keterlibatan sebagian generasi muda, kebutuhan menjaga warisan Gereja, serta pelayanan kepada umat diaspora di berbagai negara.

Dalam menghadapi tantangan ini, Gereja berusaha memperkuat pendidikan iman, kehidupan paroki, pelayanan sosial, dan pembinaan spiritual. Tujuan utamanya tetap sama, membawa manusia semakin dekat kepada Kristus.


Gereja Serbia dan Diaspora

Komunitas Serbia yang tersebar di berbagai negara menjadi bagian penting dari kehidupan Gereja. Melalui paroki-paroki diaspora, umat tetap mempertahankan liturgi Ortodoks, bahasa dan tradisi, pendidikan iman, serta hubungan dengan Gereja Serbia.

Diaspora menunjukkan bahwa kehidupan Gereja tidak terbatas oleh batas negara. Di mana umat berkumpul dalam doa dan Ekaristi, di sana kehidupan Gereja tetap hadir.


Makna Spiritual Patriarkat Serbia

Sejarah Patriarkat Serbia menunjukkan bahwa iman dapat bertahan melewati berbagai zaman. Gereja ini mengalami pembentukan, kejayaan, kehilangan kebebasan, penderitaan, pemulihan, dan tantangan modern. Namun pusat kehidupannya tetap sama, Yesus Kristus.

Warisan terbesar Patriarkat Serbia bukan hanya terletak pada biara, gereja kuno, atau sejarah politiknya, tetapi pada kehidupan umat yang terus berdoa dan mengikuti Kristus. Santo Sava memberikan dasar bahwa Gereja harus dibangun melalui iman yang teguh, pendidikan, kerendahan hati, dan pelayanan kepada sesama.


Penutup

Patriarkat Serbia merupakan salah satu Gereja penting dalam sejarah Ortodoksi Timur. Dari akar Bizantium, pembentukan Gereja mandiri melalui Santo Sava, masa kejayaan Patriarkat, penderitaan di bawah berbagai kekuasaan, hingga kehidupan modern, Gereja Serbia tetap menjadi saksi perjalanan iman yang panjang.

Melalui liturgi, biara, keluarga, pendidikan, dan pelayanan kepada umat, Gereja Ortodoks Serbia terus menjaga warisan para rasul dan meneruskannya kepada generasi berikutnya. Sebagaimana diwariskan Santo Sava, panggilan Gereja tetap sama, menjaga iman, menyatakan kasih Allah, dan membawa manusia kepada kehidupan dalam Kristus.