Pendahuluan
Patriarkat Aleksandria menempati tempat yang sangat istimewa sebagai pusat teologi, pendidikan, dan kehidupan monastik Gereja perdana. Jika Yerusalem dikenal sebagai tempat kelahiran Gereja, dan Antiokhia sebagai kota tempat para murid pertama kali disebut "Kristen", maka Aleksandria dikenal sebagai kota yang membentuk arah perkembangan pemikiran teologi Kristen, metode penafsiran Kitab Suci, serta kehidupan rohani yang kemudian memengaruhi seluruh dunia Kristen, baik Timur maupun Barat.
Dari kota inilah lahir sejumlah tokoh besar Gereja yang mempertahankan iman Ortodoks pada masa-masa paling genting dalam sejarahnya, sekaligus menjadi tempat berkembangnya kehidupan para rahib padang gurun yang kelak menyebar pengaruhnya jauh melampaui Mesir, ke seluruh Timur maupun Barat. Tradisi Gereja menyatakan bahwa Patriarkat Aleksandria didirikan oleh Santo Markus Sang Penginjil (penulis Injil kedua dalam Perjanjian Baru) yang dikenal sebagai murid sekaligus rekan pelayanan Rasul Petrus, bahkan menurut sebagian tradisi berperan sebagai penerjemah (hermeneutes) bagi Petrus. Karena itu Gereja Aleksandria memandang dirinya sebagai salah satu Gereja apostolik yang menjaga kesinambungan iman para rasul hingga masa kini, dengan gelar kepemimpinannya, yakni Paus dan Patriark Aleksandria dan Seluruh Afrika, mencerminkan cakupan pelayanannya yang sejak awal telah melampaui batas satu kota atau satu negara.
Kota Alexandria dalam Dunia Kuno
Aleksandria didirikan pada tahun 331 sebelum Masehi oleh Aleksander Agung, tak lama setelah penaklukannya atas Mesir dari kekuasaan Persia, dan direncanakan langsung olehnya sebagai kota pelabuhan yang akan menjadi jembatan antara dunia Yunani dan dunia Timur. Kota ini terletak di pesisir barat Delta Sungai Nil, menghadap Laut Mediterania, dan dalam waktu relatif singkat berkembang menjadi salah satu kota terbesar dan paling makmur di dunia kuno, bahkan sempat disebut-sebut sebagai kota terbesar kedua di dunia Yunani-Romawi setelah Roma sendiri.
Pada masa Dinasti Ptolemaios (dinasti Yunani yang memerintah Mesir setelah kematian Aleksander Agung) dan kemudian pada masa Kekaisaran Romawi, Aleksandria berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang menghubungkan Mediterania dengan jalur rempah-rempah dan sutra dari Timur, pusat ilmu pengetahuan dan matematika, pusat filsafat yang mempertemukan pemikiran Yunani dengan tradisi Timur, pusat kebudayaan Helenistik yang khas, sekaligus pusat pemerintahan sipil bagi seluruh Provinsi Mesir Romawi.
Penduduk kota ini terdiri dari beragam kelompok bangsa yang hidup berdampingan. Yunani yang menjadi kelas penguasa dan intelektual, Mesir asli yang menjadi mayoritas penduduk, Romawi sebagai representasi kekuasaan kekaisaran, komunitas Yahudi yang sangat besar dan berpengaruh sehingga memiliki distrik tersendiri di kota itu, Siria, Nubia, serta berbagai bangsa lain dari Afrika dan Asia yang datang berdagang atau menetap. Keberagaman budaya yang begitu kaya inilah yang menjadikan Aleksandria salah satu kota paling kosmopolitan di seluruh dunia kuno.
Kota ini juga terkenal luas karena memiliki Perpustakaan Aleksandria yang legendaris. Pada masa kejayaannya diperkirakan menyimpan ratusan ribu gulungan naskah dari seluruh dunia kuno, serta Museion (Museum) Aleksandria yang berfungsi sebagai lembaga penelitian dan pendidikan tingkat tinggi bagi para filsuf, matematikawan, astronom, dan ilmuwan dari berbagai penjuru dunia Mediterania. Lingkungan intelektual yang begitu subur dan terbuka inilah yang kelak, ketika Injil tiba di kota ini, memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap cara para teolog Kristen Aleksandria mendekati dan merumuskan iman mereka.
Berdirinya Gereja Aleksandria
Sekitar pertengahan abad pertama, St. Markus Sang Penginjil datang ke Aleksandria untuk memberitakan Injil, kemungkinan sekitar tahun 42 hingga 49 Masehi menurut berbagai penanggalan tradisional. Pada masa itu, kota Aleksandria telah lama memiliki komunitas Yahudi yang sangat besar, diperkirakan salah satu komunitas Yahudi diaspora terbesar di seluruh dunia kuno, bahkan menempati satu dari lima distrik utama kota itu. Banyak di antara mereka telah mengenal Kitab Suci Perjanjian Lama melalui Septuaginta, yaitu terjemahan Yunani dari Kitab Suci Ibrani yang disusun justru di Aleksandria sendiri, atas prakarsa Ptolemaios II Philadelphus sekitar tiga abad sebelumnya.
Keadaan ini sangat memudahkan pewartaan Injil, sebab banyak orang Yahudi Aleksandria yang telah lama membaca nubuat-nubuat mengenai Mesias dalam bahasa yang mereka pahami telah menantikan kedatangan-Nya. St. Markus mulai mengabarkan Injil baik kepada orang Yahudi maupun kepada bangsa-bangsa lain yang tinggal di kota kosmopolitan tersebut dan sedikit demi sedikit terbentuklah komunitas Kristen mula-mula di tanah Mesir. Dari Aleksandria sebagai titik awal, pemberitaan Injil kemudian menyebar mengikuti jalur Sungai Nil ke seluruh wilayah Mesir, membawa iman baru itu jauh ke pedalaman benua Afrika.
St. Markus dan Awal Kepemimpinan Gereja Aleksandria
St. Markus adalah uskup pertama Aleksandria sebelum mengalami kemartiran, sekitar tahun 68M, pada masa pemerintahan Kaisar Nero, tidak lama setelah kebakaran besar kota Roma yang memicu gelombang penganiayaan terhadap umat Kristen di seluruh Kekaisaran. Pelayanan St, Markus di Aleksandria dimulai dengan sebuah peristiwa yang sangat khas: ia bertemu seorang tukang sepatu bernama Anianus yang secara tidak sengaja melukai tangannya sendiri dengan sebilah penusuk kulit. Setelah menyembuhkan luka pada tangan Anianus melalui doa, Markus memberitakan Kristus kepadanya, dan Anianus bersama seluruh keluarganya kemudian menerima baptisan, menjadi bagian dari komunitas Kristen paling awal di Mesir.
Pelayanan St. Markus berlangsung di tengah masyarakat Aleksandria yang masih memegang teguh kepercayaan pagan, khususnya penyembahan terhadap dewa Serapis yang menjadi pusat penyembahan resmi kota itu. Karena pemberitaan Injilnya yang dianggap mengancam kepercayaan pagan yang mapan, ia akhirnya ditangkap oleh massa yang mengamuk pada hari raya pagan besar, kemudian diikat dengan tali dan diseret melintasi jalan-jalan berbatu kota itu hingga tubuhnya terluka parah, dan akhirnya wafat sebagai martir keesokan harinya. Ia diperingati setiap tanggal 25 April dalam kalender liturgi Gereja Ortodoks. Setelah kemartirannya, Anianus dipercaya melanjutkan pelayanan sebagai penerus pertama takhta Aleksandria, membuka rangkaian panjang suksesi patriarkal yang berlanjut tanpa putus hingga hari ini.
Hubungan langsung dengan St. Markus inilah yang menjadikan Patriarkat Aleksandria termasuk dalam kelompok Gereja apostolik yang berasal langsung dari pelayanan para rasul dan lingkaran terdekat mereka. Dalam tradisi Ortodoks, kesinambungan suksesi apostolik semacam ini dipandang sebagai salah satu tanda paling penting yang menjamin keaslian dan kewibawaan suatu Gereja.
Penyebaran Injil di Mesir
Setelah wafatnya St. Markus, Gereja Aleksandria terus berkembang dengan pesat di bawah kepemimpinan para uskup penerusnya. Mereka secara sistematis mengutus para imam dan pewarta Injil ke berbagai kota di sepanjang lembah Sungai Nil, sehingga dalam waktu relatif singkat, hanya dalam beberapa generasi, hampir seluruh wilayah lembah Nil telah memiliki komunitas Kristennya sendiri, dari Delta di utara hingga jauh ke Mesir Hulu di selatan.
Dari basis di Mesir ini, Injil kemudian mulai menyebar lebih jauh lagi menuju Libya di sebelah barat, wilayah Pentapolis (lima kota Yunani kuno di Libya timur), Nubia di selatan (kini wilayah Sudan), Ethiopia yang jauh di tanduk Afrika, serta berbagai wilayah lain di Afrika Timur Laut. Karena pola penyebaran inilah, sejak masa yang sangat awal Patriarkat Aleksandria tidak pernah membatasi dirinya hanya sebagai Gereja kota Aleksandria semata, melainkan sejak semula telah memandang dirinya sebagai pusat penyebaran Kekristenan bagi seluruh benua Afrika. Sebuah visi yang, sebagaimana akan terlihat kemudian, justru dihidupkan kembali dengan penuh semangat pada abad ke-20 dan ke-21.
Sekolah Kateketik Aleksandria
Seiring berkembangnya jumlah dan kedalaman iman jemaat, Aleksandria juga berkembang menjadi pusat pendidikan Kristen yang paling berpengaruh pada masanya. Sekitar akhir abad kedua, berkembanglah apa yang dikenal sebagai Sekolah Kateketik Aleksandria (Didaskaleion), yang kemudian diakui secara luas sebagai sekolah teologi formal pertama dan paling berpengaruh dalam sejarah Gereja awal.
Pada mulanya sekolah ini didirikan dengan tujuan praktis: mempersiapkan para calon baptis melalui pengajaran dasar iman Kristen. Namun di bawah kepemimpinan para gurunya yang cakap, sekolah ini berkembang jauh melampaui tujuan awalnya, menjadi pusat pembelajaran mendalam atas Kitab Suci, filsafat Yunani, teologi sistematis, apologetika untuk membela iman dari serangan kaum pagan dan kaum Gnostik, serta pembinaan kehidupan rohani secara menyeluruh. Di sekolah inilah berkembang sebuah keyakinan mendasar yang terus memengaruhi teologi Kristen hingga sekarang: bahwa akal budi manusia dan iman kepada wahyu ilahi tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dan saling menerangi.
Para guru Aleksandria dengan berani menggunakan warisan filsafat Yunani, khususnya pemikiran Platonis, sebagai alat bantu untuk menjelaskan dan mempertahankan iman Kristen secara rasional, tanpa pernah bermaksud menggantikan otoritas wahyu ilahi itu sendiri dengan filsafat manusia. Beberapa tokoh besar yang pernah mengajar di sekolah ini antara lain Pantaenus, seorang filsuf yang bertobat dan menjadi kepala sekolah pertama yang namanya tercatat dalam sejarah; Santo Klemens dari Aleksandria, penerus Pantaenus yang dikenal karena upayanya menyintesiskan filsafat Yunani dengan iman Kristen secara sistematis dalam karya-karyanya seperti Stromata; dan Origenes, salah satu murid Klemens yang paling brilian dan produktif, yang menghasilkan karya tafsir Kitab Suci dalam jumlah yang luar biasa besar, termasuk Hexapla, sebuah edisi kritis Perjanjian Lama yang menyandingkan enam versi teks berbeda dalam kolom-kolom paralel.
Melalui karya-karya para guru ini, Gereja memperoleh dasar-dasar metodologis yang sangat penting bagi perkembangan studi Kitab Suci dan teologi Kristen secara keseluruhan untuk berabad-abad berikutnya. Walaupun sejumlah gagasan spekulatif Origenes — misalnya mengenai pra-eksistensi jiwa — kemudian diperdebatkan secara serius dan bahkan sebagian dikutuk oleh konsili-konsili berikutnya, pengaruh metodenya terhadap penafsiran Alkitab tetap diakui sangat besar dan tak terbantahkan dalam sejarah Gereja.
Gereja Aleksandria dan Para Martir
Sebagaimana Gereja-Gereja kuno lainnya di seluruh Kekaisaran Romawi, Gereja Aleksandria mengalami berbagai gelombang penganiayaan yang datang silih berganti sepanjang tiga abad pertama sejarahnya. Banyak orang Kristen ditangkap dan dipaksa memilih antara mempersembahkan korban kepada dewa-dewa Romawi atau menghadapi hukuman mati, karena penolakan mereka dipandang sebagai bentuk pembangkangan terhadap negara sekaligus penghinaan terhadap agama resmi.
Penganiayaan ini mencapai puncaknya yang paling kejam pada masa pemerintahan Kaisar Diokletianus pada awal abad keempat, ketika sebuah dekrit kekaisaran memerintahkan penghancuran gereja-gereja, pembakaran Alkitab dan penangkapan massal para klerus di seluruh kekaisaran. Ribuan umat Kristen Mesir menjadi martir pada periode kelam ini karena tetap setia mempertahankan iman mereka kepada Kristus hingga akhir. Kesaksian iman yang begitu besar dan begitu banyak ini meninggalkan bekas yang sangat mendalam, sehingga Gereja Koptik, yang berbagi warisan sejarah awal yang sama dengan Patriarkat Ortodoks Aleksandria sebelum perpecahan pasca-Kalsedon, kemudian menetapkan awal pemerintahan Diokletianus (284 M) sebagai titik nol penanggalan liturginya sendiri, yang dikenal hingga kini sebagai "Era Para Martir" (Anno Martyrum). Pengorbanan para martir ini memperkuat kehidupan Gereja yang tersisa dan menjadi teladan kesetiaan yang terus diwariskan dan dihormati oleh generasi-generasi berikutnya.
Perkembangan Kehidupan Monastik Mesir
Selain menjadi pusat teologi dan pendidikan, Mesir juga menjadi tanah kelahiran kehidupan monastik Kristen. Sebuah gerakan rohani yang kelak akan memengaruhi seluruh dunia Kristen, Timur maupun Barat, selama berabad-abad berikutnya. Pada akhir abad ketiga, banyak orang Kristen mulai memilih untuk meninggalkan kehidupan duniawi guna mencari persatuan yang lebih mendalam dan tak terbagi dengan Allah, melalui disiplin doa yang tekun, puasa yang ketat, keheningan yang dijaga sungguh-sungguh, dan pertobatan yang terus-menerus. Gerakan rohani yang radikal ini berkembang terutama di padang-padang gurun yang mengelilingi lembah Sungai Nil yang subur.
Tokoh yang paling terkenal dan paling berpengaruh dalam gerakan ini adalah St. Antonius Agung, yang lahir sekitar tahun 251M dan, menurut kisah hidupnya yang termasyhur, meninggalkan seluruh warisan hartanya setelah mendengar bacaan Injil tentang pemuda kaya, untuk kemudian mengikuti Kristus secara total dan hidup sebagai pertapa tunggal di padang gurun selama puluhan tahun. Kehidupan doa dan asketismenya yang begitu keras dan konsisten menarik banyak murid yang ingin belajar langsung darinya, sehingga ia kemudian dikenal luas dalam sejarah Gereja sebagai Bapa Para Rahib (Pater Monachorum), gelar yang menempatkannya sebagai peletak dasar seluruh tradisi monastik Kristen berikutnya.
Perkembangan kehidupan monastik ini kemudian diteruskan dan disempurnakan strukturnya oleh St. Pakhomius, yang hidup pada generasi setelah Antonius. Berbeda dengan Antonius yang menekankan kehidupan menyendiri secara penuh (anachoresis), St. Pakhomius justru membentuk komunitas biara terorganisasi dengan aturan hidup bersama (koinonia) yang tertulis dan sistematis. Dalam komunitas-komunitas yang didirikannya, para rahib hidup dalam ritme harian yang teratur, mencakup doa bersama, kerja tangan untuk menopang kebutuhan komunitas, pembelajaran Kitab Suci secara mendalam, dan pelayanan timbal balik kepada sesama anggota komunitas. Model kehidupan bersama yang dirintis St. Pakhomius inilah yang kemudian menjadi dasar dan cetak biru bagi hampir seluruh tradisi monastik Ortodoks di dunia hingga sekarang, termasuk yang kelak berkembang di Kapadokia, Palestina, Gunung Athos, dan jauh ke Eropa Barat.
Tradisi Teologi Aleksandria
Pada abad ketiga dan keempat, Aleksandria berkembang menjadi salah satu dari dua pusat teologi terbesar dalam seluruh dunia Kristen, bersanding dan pada banyak titik justru berseberangan pendekatan dengan sekolah teologi Antiokhia yang lebih menekankan penafsiran historis-literal. Para teolog Aleksandria menekankan pentingnya memahami keseluruhan Kitab Suci sebagai satu kesatuan yang koheren, yang seluruhnya diarahkan untuk menuntun manusia kepada pengenalan akan Kristus, sering kali menggunakan metode penafsiran alegoris untuk menyingkap makna rohani yang lebih dalam di balik teks harfiah.
Mereka juga menaruh perhatian yang sangat besar pada misteri Inkarnasi: kebenaran bahwa Sang Allah Putra sungguh-sungguh dan sepenuhnya menjadi manusia demi keselamatan seluruh dunia, bukan sekadar tampak atau seolah-olah menjadi manusia. Pendekatan teologi Aleksandria yang khas ini memberikan pengaruh yang sangat besar dan menentukan terhadap perkembangan ajaran Gereja mengenai pribadi Kristus, misteri Tritunggal Mahakudus, serta pemahaman tentang kehidupan rohani umat Kristen secara keseluruhan. Pemikiran yang lahir dan matang di kota ini kemudian menjadi salah satu fondasi paling mendasar bagi seluruh bangunan teologi Gereja Ortodoks yang kita kenal hingga hari ini.
Warisan Awal Gereja Aleksandria
Sejak masa awalnya, Gereja Aleksandria dibentuk oleh beberapa unsur utama yang saling menopang: hubungan langsung dan tak terputus dengan pelayanan Santo Markus Sang Penginjil, semangat penyebaran Injil yang sejak awal telah menjangkau jauh melampaui satu kota hingga ke seluruh Afrika, perkembangan pendidikan dan teologi Kristen yang paling maju pada masanya melalui Sekolah Kateketik, lahirnya kehidupan monastik Mesir yang kelak memengaruhi seluruh dunia Kristen, serta kesaksian tak terhitung banyaknya para martir yang mempertahankan iman mereka hingga titik darah penghabisan. Warisan gabungan inilah yang menjadikan Patriarkat Aleksandria sebagai salah satu pusat terpenting dalam keseluruhan sejarah Gereja, tempat lahirnya begitu banyak ajaran, tradisi, dan kehidupan rohani yang terus memengaruhi Gereja Ortodoks hingga masa kini.
Aleksandria Pada Masa Kejayaan Bizantium
Setelah Kekristenan memperoleh kebebasan beragama melalui Edik Milan pada tahun 313 M dan kemudian berkembang menjadi agama yang secara aktif didukung oleh negara Kekaisaran Romawi, Gereja Aleksandria memasuki salah satu masa paling gemilang dalam seluruh sejarahnya. Kota Aleksandria berkembang menjadi pusat kehidupan liturgi yang megah, pendidikan teologi yang semakin matang, administrasi gerejawi yang terstruktur rapi, kehidupan monastik yang terus berkembang pesat di padang-padang gurun sekitarnya, serta pengutusan para uskup dan misionaris ke berbagai wilayah Afrika yang lebih luas.
Pada masa inilah Patriark Aleksandria memimpin sebuah wilayah gerejawi yang sangat luas, meliputi seluruh Mesir, Libya, Pentapolis, Nubia, dan berbagai komunitas Kristen lainnya yang tersebar di benua Afrika. Sebagai salah satu kota terbesar dan termakmur dalam seluruh Kekaisaran Romawi Timur, Aleksandria menjadi pusat pemikiran Kristen yang sejajar kedudukannya dengan Roma, Antiokhia, Konstantinopel, dan Yerusalem. Suatu kedudukan yang akan segera diformalkan dalam struktur resmi Gereja kuno.
Kedudukan Patriark Alexandria dalam Gereja Kuno
Dalam tata Gereja kuno, Aleksandria menempati kedudukan yang sangat tinggi, bahkan pada masa-masa awal sempat dipandang sebagai takhta kedua paling terhormat setelah Roma, mendahului bahkan Konstantinopel yang baru menjadi ibu kota kekaisaran pada abad ke-4. Bersama Roma, Konstantinopel, Antiokhia, dan Yerusalem, Aleksandria termasuk dalam kelompok lima Takhta Apostolik yang dikenal sebagai Pentarki, yang bersama-sama memimpin dan menjaga kesatuan Gereja pada masa kuno.
Kedudukan istimewa ini tidak semata-mata didasarkan pada pentingnya Aleksandria sebagai salah satu kota terbesar Kekaisaran Romawi, melainkan juga, dan bahkan terutama, karena Gereja ini berasal langsung dari pelayanan St. Markus Sang Penginjil yang begitu dekat dengan lingkaran para rasul. Patriark Aleksandria memiliki kewenangan kanonik yang sangat luas atas seluruh Gereja di Mesir dan Afrika Utara, dan memainkan peranan yang sangat aktif dan sering kali menentukan dalam berbagai konsili ekumenis Gereja purba. Sejak abad keempat, banyak persoalan teologi paling besar dan paling menentukan dalam sejarah Kekristenan justru diselesaikan melalui peranan aktif dan sering kali sentral dari para uskup Aleksandria.
Konsili Nicea dan Pembelaan Iman Ortodoks
Pada awal abad keempat, Gereja menghadapi salah satu krisis teologis terbesar dalam seluruh sejarahnya. Seorang imam dari Aleksandria bernama Arius mulai mengajarkan bahwa Putra Allah bukanlah Allah yang kekal bersama Bapa, melainkan ciptaan pertama dan tertinggi yang diciptakan oleh Bapa dari ketiadaan. Ajaran yang secara halus namun fatal mengikis keyakinan inti Kekristenan bahwa Kristus adalah Allah sejati. Doktrin sesat ini menyebar dengan sangat cepat ke berbagai wilayah Kekaisaran Romawi dan menimbulkan perpecahan besar serta kekacauan di dalam Gereja, bahkan hingga memengaruhi stabilitas politik kekaisaran itu sendiri.
Untuk menyelesaikan persoalan yang begitu mendesak ini, Kaisar Konstantinus Agung mengumpulkan sekitar tiga ratus uskup dari seluruh penjuru kekaisaran dalam Konsili Nicea, yang berlangsung dari Mei hingga Agustus tahun 325 M. Gereja Aleksandria memainkan peranan yang sangat sentral dan menentukan dalam konsili bersejarah ini. Patriark Aleksander dari Aleksandria memimpin barisan penolakan tegas terhadap ajaran Arius. Mendampinginya hadir seorang diakon muda yang belum genap berusia tiga puluh tahun bernama Athanasius, yang kelak menjadi salah satu pembela terbesar iman Ortodoks dalam sejarah Gereja, bahkan menjadi penyusun utama rumusan Pengakuan Iman Nicea itu sendiri, sebuah peran yang memberinya gelar kehormatan "Pembela Iman".
Konsili Nicea akhirnya menegaskan secara resmi dan definitif bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati dari Allah sejati, dilahirkan dan bukan dijadikan atau diciptakan, sehakikat (homoousios) dengan Bapa. Sebuah rumusan yang menutup celah bagi segala bentuk kompromi dengan ajaran Arius. Rumusan iman ini kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari Syahadat Nicea yang hingga kini diucapkan setiap minggu dalam Liturgi Ilahi oleh seluruh umat Gereja Ortodoks di manapun mereka berada.
St. Athanasius dan Perjuangan Melawan Arianisme
Setelah Patriark Aleksander wafat pada 328, St. Athanasius yang masih sangat muda diangkat menggantikannya sebagai Patriark Aleksandria ke-20, sebuah jabatan yang akan dipegangnya selama empat puluh lima tahun penuh gejolak hingga wafatnya pada tahun 373 M. Masa kepemimpinannya dipenuhi tantangan yang luar biasa berat, karena ajaran Arianisme meski telah dikutuk resmi di Nicea ternyata masih mendapat dukungan kuat dari sejumlah besar uskup berpengaruh, dan bahkan dari sejumlah kaisar yang silih berganti memerintah, yang karena berbagai alasan politik cenderung mendukung faksi Arian demi menjaga stabilitas kekaisaran.
St. Athanasius, karena keteguhannya yang tanpa kompromi dalam mempertahankan keputusan Konsili Nicea, mengalami tidak kurang dari lima kali pengasingan yang berbeda sepanjang masa kepemimpinannya, dengan total masa pengasingan mencapai sekitar tujuh belas tahun dari empat puluh lima tahun ia menjabat, hampir sepertiga seluruh masa jabatannya dihabiskan jauh dari takhtanya sendiri, tersebar di berbagai tempat mulai dari Trier di Galia (kini wilayah Jerman/Prancis) hingga Roma. Pengasingan pertamanya terjadi pada 335 setelah sebuah sinode di Tirus yang diatur oleh para lawan teologisnya menyatakan ia bersalah atas berbagai tuduhan disipliner yang direkayasa. Fenomena berulang inilah yang melahirkan ungkapan Latin termasyhur, Athanasius contra mundum ("Athanasius melawan dunia"). Sebuah gambaran betapa sendirian namun teguhnya ia bertahan mempertahankan iman yang benar di tengah tekanan yang datang dari hampir segala penjuru.
Namun pengasingan yang berulang-ulang ini sama sekali tidak melemahkan semangat pelayanannya; justru sebaliknya, ia memanfaatkan masa-masa pengasingannya untuk menulis secara produktif. Melalui tulisan-tulisan teologisnya, termasuk karya-karya awal seperti Against The Heathen dan On The Incarnation yang ditulisnya bahkan sebelum pengasingan pertamanya, St. Athanasius menjelaskan dengan tajam dan mendalam bahwa hanya Allah sendiri yang mampu menyelamatkan manusia dari kematian dan dosa; karena itu, Kristus harus benar-benar Allah sepenuhnya sekaligus benar-benar manusia sepenuhnya, sebab jika Kristus bukan Allah sejati, maka keselamatan yang Ia bawa pun tidak akan pernah cukup untuk menyelamatkan manusia. Pemikirannya yang begitu tajam dan konsisten ini menjadi dasar yang sangat penting bagi seluruh perkembangan teologi Tritunggal Mahakudus dan Kristologi Ortodoks pada abad-abad berikutnya.
Selain membela iman Ortodoks dengan gigih melawan Arianisme, St. Athanasius juga menulis riwayat hidup St. Antonius Agung, Vita Antonii, yang menjadi salah satu karya biografi rohani paling berpengaruh dalam sejarah Kekristenan. Karya tersebut secara efektif memperkenalkan kehidupan monastik Mesir kepada seluruh dunia Kristen yang lebih luas, dan menjadi katalisator utama yang mendorong berkembangnya kehidupan biara baik di dunia Timur maupun, melalui terjemahan Latinnya, di dunia Barat, termasuk memengaruhi tokoh-tokoh besar seperti St. Agustinus dari Hippo.
Tradisi Teologi Aleksandria Tentang Kristus
Selain menjadi pusat kehidupan monastik yang begitu subur, Aleksandria juga menjadi pusat perkembangan teologi yang sangat mendalam mengenai pribadi Kristus. Para teolog Aleksandria secara konsisten menekankan bahwa Kristus adalah satu Pribadi ilahi tunggal yang sungguh-sungguh dan sepenuhnya menjadi manusia — bukan dua pribadi yang berbeda yang kebetulan bersatu, melainkan satu Sang Sabda (Logos) yang sama, yang sejak kekal adalah Allah, kini juga sungguh-sungguh manusia.
Mereka mengajarkan dengan tegas bahwa Inkarnasi bukan sekadar berarti Allah "tinggal di dalam" atau "menaungi" seorang manusia tertentu sebagaimana Ia menaungi para nabi, melainkan bahwa Sang Sabda sendiri secara pribadi dan langsung mengambil kodrat manusia sepenuhnya ke dalam diri-Nya sendiri, tanpa sedikit pun kehilangan keilahian-Nya yang penuh. Penekanan yang sangat kuat terhadap kesatuan Pribadi Kristus inilah yang menjadi ciri paling khas dan paling membedakan tradisi teologi Aleksandria dari pendekatan sekolah Antiokhia yang lebih menekankan pemisahan konseptual antara kedua kodrat. Pandangan Aleksandria ini memiliki pengaruh yang sangat besar dan menentukan terhadap seluruh rangkaian perdebatan Kristologi yang meletus dengan sengit pada abad kelima.
Konsili Efesus Tahun 431
Pada awal abad kelima, muncul perdebatan besar yang menggoncang seluruh Gereja mengenai bagaimana secara tepat memahami hubungan antara keilahian dan kemanusiaan dalam diri Kristus. Nestorius, Patriark Konstantinopel yang berasal dari tradisi teologi Antiokhia, menolak penggunaan gelar Theotokos ("yang melahirkan Allah") bagi Perawan Maria, dan lebih memilih istilah Christotokos ("yang melahirkan Kristus") karena kekhawatirannya bahwa gelar Theotokos berisiko mencampuradukkan kodrat ilahi dan manusiawi Kristus. Persoalan yang tampak seperti sekadar perdebatan istilah ini dengan cepat berkembang menjadi perdebatan mendasar mengenai pribadi Kristus itu sendiri.
Patriark Kirilos (Kiril) dari Aleksandria tampil sebagai pembela utama ajaran Gereja yang benar melawan pandangan Nestorius, dengan kefasihan teologis dan kegigihan yang luar biasa. Ia menegaskan bahwa Kristus adalah satu Pribadi ilahi tunggal, dan karena itu Maria benar-benar dan secara sah dapat disebut Theotokos atau Bunda Allah — bukan karena ia melahirkan keilahian itu sendiri dari ketiadaan, melainkan karena Anak yang dilahirkannya bukan lain adalah Allah Putra sendiri yang telah menjadi manusia sepenuhnya sejak saat pengandungan-Nya di dalam rahimnya. Dalam Konsili Efesus tahun 431, yang diselenggarakan dengan didahului oleh manuver-manuver politik dan kanonik yang rumit antara faksi Kirilos dan faksi pendukung Nestorius, Gereja akhirnya menerima dan meneguhkan ajaran yang dipertahankan Kirilos, secara resmi menegaskan penggunaan gelar Theotokos sebagai pengakuan iman yang tepat akan misteri Inkarnasi Kristus. Keputusan ini menjadi salah satu tonggak paling penting dalam sejarah pembentukan teologi Ortodoks, dan gelar Theotokos hingga kini tetap menjadi salah satu gelar Bunda Maria yang paling sentral dalam ibadah Ortodoks.
Konsili Kalsedon Tahun 451
Dua puluh tahun setelah kemenangan Kirilos di Efesus, muncul kembali perdebatan yang tak kalah sengit mengenai hubungan tepat antara kodrat ilahi dan kodrat manusia dalam diri Kristus — kali ini dipicu oleh ajaran seorang biarawan bernama Eutikhes yang, dalam upayanya menegaskan kesatuan Pribadi Kristus secara berlebihan, tampak menyangkal keberadaan kodrat manusia Kristus yang tetap utuh setelah penyatuan. Untuk menyelesaikan persoalan yang rumit ini, Gereja mengadakan Konsili Kalsedon pada tahun 451 M, konsili ekumenis keempat dalam sejarah Kekristenan.
Konsili tersebut merumuskan sebuah definisi iman yang menegaskan bahwa Kristus adalah satu Pribadi, memiliki dua kodrat: ilahi dan manusia. Yang bersatu tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa pemisahan, dan tanpa pembagian. Walaupun rumusan tersebut pada akhirnya diterima secara luas oleh sebagian besar Gereja di seluruh Kekaisaran Romawi, sebagian besar umat Kristen Mesir menolaknya dengan tegas. Mereka memandang rumusan "dua kodrat" ini terlalu berisiko mengarah kembali kepada kesalahan Nestorius yang telah dikutuk sebelumnya, dan menganggap rumusan itu tidak sepenuhnya setia mencerminkan bahasa teologis yang dipakai St. Kirilos Aleksandria sendiri, yang lebih menekankan "satu kodrat Sang Sabda yang berinkarnasi" (mia physis tou Theou Logou sesarkomene). Perbedaan penafsiran teologis yang sangat mendalam inilah yang kemudian berkembang menjadi perpecahan besar dan permanen dalam tubuh Gereja Mesir.
Perpecahan Gereja Mesir
Sesudah Konsili Kalsedon, Gereja di Mesir secara bertahap namun pasti terbagi menjadi dua kelompok utama yang masing-masing mengklaim diri sebagai pewaris sah warisan Santo Markus dan Santo Kirilos. Sebagian besar umat Mesir yang jumlahnya jauh lebih banyak mengikuti garis kepemimpinan yang menolak Kalsedon dan kemudian berkembang menjadi apa yang dikenal sebagai Gereja Ortodoks Koptik, salah satu Gereja terbesar dalam keluarga Ortodoks Oriental. Sementara itu, komunitas yang lebih kecil namun tetap signifikan, yang menerima dan meneguhkan keputusan Konsili Kalsedon, mempertahankan persekutuan penuh dengan Gereja Ortodoks Timur (Bizantium) yang lebih luas dan melanjutkan garis suksesi yang kini dikenal sebagai Patriarkat Ortodoks Yunani Aleksandria.
Perpecahan ini membawa dampak yang sangat besar dan berjangka panjang terhadap seluruh kehidupan Gereja di Mesir. Dalam banyak kesempatan sepanjang sejarah berikutnya, kedua komunitas ini memiliki patriark mereka masing-masing yang berdampingan di kota yang sama, kadang dalam suasana ketegangan, kadang dalam suasana yang relatif damai bergantung pada situasi politik yang berlaku. Meskipun demikian, hingga hari ini kedua komunitas tetap sama-sama menghormati warisan awal Gereja Aleksandria yang mereka bagi bersama, dan sama-sama mengakui pentingnya Santo Markus Sang Penginjil sebagai pendiri bersama Gereja Mesir, sebuah titik temu historis yang menjadi dasar bagi berbagai upaya dialog dan rekonsiliasi teologis antara kedua tradisi pada masa modern.
Penaklukan Arab dan Masa Baru Gereja Aleksandria
Pada abad ketujuh, Mesir mengalami perubahan politik yang sangat besar ketika pasukan Arab Muslim, di bawah pimpinan jenderal Amr bin al-Ash, melancarkan penaklukan menyeluruh atas wilayah tersebut. Aleksandria sendiri, setelah pengepungan yang panjang, akhirnya jatuh sepenuhnya ke tangan pasukan Muslim pada tahun 642. Perubahan pemerintahan ini secara definitif mengakhiri lebih dari enam abad kekuasaan Yunani-Romawi (Ptolemaik dan Bizantium) atas Mesir, dan membawa Gereja Aleksandria memasuki babak yang sama sekali baru dan tidak akan pernah kembali seperti sediakala dalam seluruh sejarahnya.
Patriarkat Aleksandria tetap bertahan sebagai institusi meski kini harus hidup sebagai komunitas Kristen minoritas di bawah pemerintahan Islam yang baru. Walaupun tidak lagi memperoleh dukungan penuh dari kekuasaan politik sebagaimana pada masa Bizantium, Gereja tetap gigih mempertahankan kehidupan liturginya, tradisi monastiknya yang begitu kaya, pendidikan rohani bagi generasi berikutnya, serta pelayanan pastoral yang berkelanjutan kepada umatnya yang kini harus belajar hidup sebagai minoritas di tanah leluhur mereka sendiri.
Gereja Aleksandria di Bawah Pemerintahan Islam
Selama berabad-abad berikutnya, di bawah berbagai dinasti pemerintahan Islam yang silih berganti menguasai Mesir, mulai dari Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah, Ayyubiyah, hingga Mamluk. Umat Ortodoks hidup sebagai komunitas Kristen minoritas yang terus beradaptasi dengan realitas politik yang terus berubah. Keadaan mereka berubah-ubah secara signifikan mengikuti situasi politik yang berlaku pada masing-masing periode dan masing-masing penguasa.
Ada masa-masa tertentu ketika Gereja memperoleh ruang kebebasan yang cukup luas untuk menjalankan ibadah dan kehidupan komunitasnya secara relatif tenang, bahkan turut berperan dalam kehidupan administratif dan ekonomi Mesir. Namun terdapat pula masa-masa lain—terutama pada periode-periode tertentu di bawah Kekhalifahan Fatimiyah dan beberapa penguasa Mamluk—ketika berbagai pembatasan hukum yang berat diberlakukan terhadap kehidupan umat Kristen, termasuk pembatasan pembangunan gereja baru dan kewajiban pajak khusus. Di tengah berbagai perubahan dan tantangan yang datang silih berganti ini, Patriarkat Aleksandria tetap dengan gigih mempertahankan warisan apostoliknya, melalui pelayanan tanpa henti dari para patriark yang terus memimpin, para imam yang melayani jemaat, para rahib yang menjaga nyala kehidupan doa di biara-biara gurun, serta keluarga-keluarga Kristen yang dari generasi ke generasi terus menjaga iman mereka meski jumlah mereka secara demografis terus menyusut dibandingkan populasi Muslim yang terus bertambah.
Masa Dinasti Ottoman
Pada tahun 1517, Mesir menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) setelah kekalahan Kesultanan Mamluk, dan tetap berada di bawah kekuasaan Ottoman meski dengan tingkat otonomi lokal yang bervariasi, terutama setelah bangkitnya dinasti Muhammad Ali pada awal abad ke-19 selama berabad-abad berikutnya. Selama masa Ottoman ini, jumlah umat Ortodoks Yunani (Rum) di Mesir tercatat relatif kecil dibandingkan dengan besarnya komunitas Koptik yang jauh lebih banyak jumlahnya di negeri itu.
Walaupun demikian, dan meski dalam skala jemaat yang jauh lebih terbatas, Patriarkat Aleksandria tetap mempertahankan keberadaannya sebagai institusi kanonik yang sah dan dihormati. Para patriark terus memimpin kehidupan Gereja yang tersisa, sambil tetap menjaga hubungan persekutuan yang erat dengan Patriarkat Konstantinopel, Antiokhia, Yerusalem, serta Gereja-Gereja Ortodoks lainnya di seluruh dunia. Biara-biara kuno di Mesir juga tetap bertahan sebagai pusat kehidupan rohani yang hidup, dengan gigih mempertahankan warisan spiritual para Bapa Padang Gurun yang telah diwariskan sejak abad keempat.
Makna Sejarah Patriarkat Aleksandria
Perjalanan panjang Patriarkat Aleksandria menunjukkan secara nyata bagaimana sebuah Gereja mampu mempertahankan identitas intinya di tengah rangkaian perubahan besar yang datang silih berganti sepanjang hampir dua ribu tahun. Gereja ini telah melewati masa para rasul yang penuh pergumulan awal, perkembangan teologi Gereja yang paling mendalam dan berpengaruh dalam sejarah Kekristenan, perjuangan panjang dan melelahkan melawan Arianisme, peran sentral dalam Konsili-Konsili Ekumenis yang menentukan arah iman Kristen selamanya, perpecahan yang menyakitkan setelah Kalsedon, penaklukan Arab yang mengubah wajah Mesir untuk selamanya, hingga berabad-abad panjang di bawah pemerintahan Ottoman.
Namun di tengah seluruh rangkaian perubahan besar tersebut, Patriarkat Aleksandria tetap dengan teguh mempertahankan misinya yang paling mendasar: menjadi penjaga warisan apostolik Santo Markus, pusat tradisi teologi Ortodoks yang begitu kaya dan mendalam, serta salah satu pilar utama Kekristenan di benua Afrika yang tidak pernah padam meski diuji berkali-kali oleh sejarah.
Patriarkat Aleksandria di Masa Modern
Setelah melewati masa Bizantium yang gemilang, penaklukan Arab yang mengubah segalanya, dan berabad-abad panjang di bawah pemerintahan Kesultanan Ottoman, Patriarkat Aleksandria memasuki zaman modern dengan menghadapi berbagai tantangan yang sama sekali baru. Walaupun jumlah umat Ortodoks Yunani di Mesir sendiri jauh lebih sedikit dibandingkan komunitas Kristen lainnya yang lebih besar seperti Koptik, Patriarkat Aleksandria tetap dengan teguh mempertahankan identitasnya sebagai penerus sah Gereja yang didirikan oleh Santo Markus Sang Penginjil hampir dua milenium sebelumnya.
Berbeda dengan masa-masa panjang sebelumnya ketika perhatian dan energi Gereja lebih banyak tercurah pada sekadar mempertahankan keberadaan umatnya yang tersisa di Mesir, pada zaman modern Patriarkat Aleksandria justru kembali menghidupkan dengan penuh semangat visi misioner yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitasnya sejak masa Gereja perdana. Akibat dari kebangkitan semangat ini, wilayah pelayanannya kini berkembang jauh melampaui batas-batas Mesir, dan pada masa kini mencakup hampir seluruh benua Afrika.
Pusat Patriarkat di Aleksandria
Hingga saat ini, pusat resmi Patriarkat tetap dan selalu berada di kota Aleksandria, Mesir. Tidak pernah berpindah sepanjang hampir dua ribu tahun sejarahnya, berbeda dengan sejumlah Patriarkat kuno lain yang pusatnya terpaksa berpindah karena berbagai gejolak sejarah. Walaupun kota tersebut kini tidak lagi menjadi pusat politik dan ekonomi seperti pada zaman kuno maupun pada masa Bizantium, Aleksandria tetap memiliki makna spiritual yang sangat besar bagi seluruh Gereja Ortodoks, karena di kota inilah Santo Markus pertama kali memberitakan Injil dan membentuk komunitas Kristen pertama di tanah Mesir.
Pusat administrasi Gereja modern berkedudukan di kompleks Patriarkat Aleksandria, sementara berbagai kegiatan liturgi besar dan perayaan-perayaan penting sepanjang tahun gerejawi dipusatkan di Katedral Santo Markus yang berdiri megah di kota itu. Takhta St. Markus (Throne of Saint Mark) itu sendiri. Kursi kepemimpinan simbolis yang menurut tradisi dapat dilacak kembali kepada St. Markus sendiri tetap menjadi lambang paling nyata dari kesinambungan apostolik Gereja Aleksandria yang tak terputus sejak abad pertama hingga sekarang.
Wilayah Pelayanan Patriarkat Alexandria
Saat ini Patriarkat Aleksandria memiliki cakupan yurisdiksi yang sangat luas dan unik dibandingkan Patriarkat Ortodoks lainnya. Berbeda dengan kebanyakan Patriarkat lain yang wilayah pelayanannya terutama terpusat pada satu negara atau satu kawasan tertentu, Patriarkat Aleksandria secara resmi memikul tanggung jawab kanonik atas seluruh benua Afrika, sebuah benua dengan lebih dari lima puluh negara berdaulat.
Wilayah pelayanannya secara resmi meliputi Mesir sebagai basis historisnya, Libya, Tunisia, Aljazair, dan Maroko di Afrika Utara; Sudan dan Sudan Selatan; Ethiopia (khusus bagi komunitas Ortodoks Yunani yang hidup berdampingan dengan Gereja Ortodoks Ethiopia yang jauh lebih besar dan memiliki tradisi Oriental tersendiri); serta meluas jauh ke Afrika Sub-Sahara mencakup Kenya, Uganda, Tanzania, Nigeria, Ghana, Kamerun, Republik Demokratik Kongo, Afrika Selatan, Zimbabwe, Madagaskar, dan berbagai negara Afrika lainnya. Di setiap wilayah yang begitu luas ini, dibentuklah keuskupan-keuskupan yang dipimpin oleh para metropolitan dan uskup lokal, yang melayani umat setempat secara langsung melalui jaringan paroki, sekolah, rumah sakit dan klinik, pusat pelayanan sosial, serta berbagai kegiatan misioner yang terus berkembang.
Kebangkitan Misi di Afrika
Pada abad ke-20, Patriarkat Aleksandria mengalami sebuah kebangkitan besar dalam bidang misi yang mengubah wajah demografisnya secara mendasar. Jika selama berabad-abad sebelumnya perhatian utama Gereja lebih banyak tercurah pada upaya mempertahankan keberadaan umat yang tersisa di Mesir, maka pada masa modern Injil kembali diberitakan secara aktif dan sistematis ke berbagai wilayah Afrika yang jauh lebih luas.
Para imam, rahib, dan misionaris — banyak di antaranya datang dari Yunani dan Siprus, namun kian lama kian banyak pula yang berasal dari kalangan Afrika sendiri mendirikan gereja-gereja baru di berbagai negara, dengan tekun menerjemahkan teks-teks liturgi ke dalam berbagai bahasa lokal Afrika agar dapat sungguh-sungguh dipahami dan dihayati oleh umat setempat, serta membentuk komunitas-komunitas Ortodoks baru di banyak negara yang sebelumnya belum pernah tersentuh oleh Ortodoksi. Perkembangan yang begitu pesat ini membuat jumlah umat Ortodoks di Afrika meningkat secara signifikan sepanjang abad ke-20 hingga awal abad ke-21. Yang menarik, banyak orang Afrika yang menerima Ortodoksi tidak memandangnya sebagai agama asing yang baru diperkenalkan oleh kolonialisme Barat, melainkan justru sebagai kelanjutan yang sah dan otentik dari tradisi Kristen kuno yang sesungguhnya telah hadir di benua Afrika sejak masa Gereja perdana — sebuah kesadaran historis yang memberi Ortodoksi Afrika akar identitas yang sangat kuat dan khas.
Aleksandria Pada Masa Kejayaan Bizantium
Sepanjang abad kedua puluh dan awal abad kedua puluh satu, sejumlah patriark memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap arah perkembangan Gereja Aleksandria menuju bentuknya yang kita kenal hari ini.
Salah satu tokoh penting pada awal abad ke-20 adalah Patriark Photios, yang memimpin Gereja pada dekade-dekade awal abad tersebut. Pada masa kepemimpinannya, Patriarkat mulai memperkuat kembali hubungan dengan komunitas-komunitas Ortodoks yang tersebar di luar Mesir dan meletakkan dasar-dasar awal bagi kebangkitan karya misioner di Afrika yang akan berkembang jauh lebih pesat pada dekade-dekade berikutnya.
Perkembangan tersebut kian nyata dan konkret pada masa kepemimpinan Patriark Parthenios III, yang memimpin Gereja hingga wafatnya pada tahun 1996. Ia memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pelayanan misi di berbagai negara Afrika dan secara aktif mendorong pembentukan keuskupan-keuskupan baru di berbagai negara yang sebelumnya belum memiliki struktur gerejawi Ortodoks. Di bawah kepemimpinannya pula, Gereja menjadi semakin terbuka terhadap penggunaan bahasa-bahasa lokal Afrika dalam liturgi dan pengajaran iman, sebuah kebijakan yang terbukti sangat penting bagi pertumbuhan Ortodoksi Afrika di kemudian hari.
Penerus Parthenios III, Patriark Petros VII, yang menjabat sejak Februari 1997, dikenal sebagai salah satu pemimpin paling aktif dan energik dalam mengembangkan pelayanan sosial dan misi di seluruh benua. Ia secara pribadi sering mengunjungi komunitas-komunitas Ortodoks yang tersebar di berbagai negara Afrika, mulai dari Kenya, Uganda, hingga Madagaskar dan Kamerun, sambil mendukung pembangunan sekolah, rumah sakit, serta program pelatihan bagi calon-calon imam lokal. Selama masa jabatannya, ia juga mendirikan sejumlah keuskupan baru, termasuk di Nigeria, Madagaskar, Ghana, Bukoba, dan Zambia, sekaligus menyusun tata cara pemilihan patriark yang lebih formal melalui Sinode Kudus. Masa pelayanannya yang begitu produktif ini berakhir secara tragis dan mendadak pada 11 September 2004, ketika helikopter yang membawanya dalam kunjungan resmi pertamanya ke Gunung Athos jatuh ke Laut Aegea, menewaskan dirinya bersama enam belas orang lainnya, termasuk tiga uskup lain dari Gereja Aleksandria Metropolitan Chrysostomos dari Kartago, Metropolitan Ireneos dari Pilousion, dan Uskup Nektarios dari Madagaskar. Sebuah tragedi yang mengguncang seluruh dunia Ortodoks.
Sejak 24 Oktober 2004, Patriarkat dipimpin oleh Patriark Theodoros II, yang melanjutkan dan bahkan memperluas lebih jauh karya misioner pendahulunya, terutama di kawasan Afrika Sub-Sahara yang terus berkembang pesat. Di bawah kepemimpinannya yang telah berlangsung lebih dari dua dekade, ia memberikan perhatian besar terhadap pendidikan teologi yang lebih terstruktur, pelayanan kemanusiaan yang lebih luas, serta dialog aktif dengan Gereja-Gereja Kristen lain maupun dengan masyarakat luas di berbagai negara Afrika tempat umatnya kini tersebar.
Pendidikan dan Pembinaan Rohani
Sejak masa paling awal sejarahnya, pendidikan selalu menjadi bagian yang sangat penting dari identitas Patriarkat Aleksandria, warisan langsung dari kejayaan Sekolah Kateketik Aleksandria pada masa kuno. Tradisi keunggulan pendidikan teologi ini diteruskan pada masa modern melalui berbagai seminari, akademi teologi, dan pusat-pusat pendidikan yang membina para calon imam maupun para pelayan Gereja lainnya, tersebar di berbagai negara dalam yurisdiksi Patriarkat.
Selain pendidikan teologi bagi calon klerus, Gereja juga secara aktif mendirikan sekolah-sekolah umum sebagai wujud nyata pelayanannya kepada masyarakat luas di Afrika. Di banyak negara Afrika, sekolah-sekolah Ortodoks ini memberikan akses pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak setempat tanpa memandang latar belakang agama maupun suku mereka. Kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat yang jauh melampaui sekadar pelayanan keagamaan semata. Dengan demikian, pelayanan Gereja Aleksandria pada masa modern tidak hanya diwujudkan melalui pewartaan Injil dan perayaan liturgi, tetapi juga secara nyata melalui pendidikan dan pengembangan masyarakat secara menyeluruh.
Kehidupan Monastik pada Masa Modern
Tradisi monastik yang lahir di padang gurun Mesir sejak abad ketiga dan keempat tetap menjadi bagian yang sangat penting dari kehidupan Patriarkat Aleksandria hingga hari ini. Biara-biara kuno seperti Biara Santo Antonius Agung, yang berdiri di kaki Pegunungan Laut Merah tempat sang santo sendiri pernah bertapa, dan Biara Santo Paulus Pertapa yang tak jauh darinya, masih terus berfungsi sebagai pusat doa dan tujuan ziarah yang hidup hingga sekarang, meski secara kanonik biara-biara tertua ini kini berada dalam yurisdiksi Gereja Ortodoks Koptik pasca-perpecahan Kalsedon, sementara Patriarkat Ortodoks Yunani Aleksandria memiliki jaringan biara dan komunitas monastiknya sendiri, termasuk Biara Santo Savas di kota Aleksandria sendiri.
Di tempat-tempat monastik yang masih aktif ini, para rahib menjalani kehidupan yang berpusat pada doa yang teratur, puasa yang disiplin, kerja tangan, pembacaan Kitab Suci secara mendalam, serta pelayanan rohani kepada umat yang datang berziarah maupun mencari bimbingan spiritual. Selain dengan setia mempertahankan tradisi kuno yang telah diwariskan selama lebih dari seribu tujuh ratus tahun, beberapa komunitas monastik modern juga secara aktif mendukung pelayanan misi yang lebih luas dengan membina para calon imam yang akan melayani di berbagai negara Afrika, serta menyediakan bantuan sosial langsung bagi masyarakat di sekitar mereka. Warisan spiritual para Bapa Padang Gurun yang begitu kaya ini tetap menjadi sumber inspirasi yang hidup dan relevan bagi kehidupan rohani Gereja Ortodoks di seluruh dunia, jauh melampaui batas-batas Mesir dan Afrika sendiri.
Hubungan dengan Gereja Ortodoks Dunia
Sebagai salah satu dari empat Patriarkat apostolik paling kuno dalam sejarah Kekristenan, Patriarkat Aleksandria merupakan bagian yang sangat dihormati dari keseluruhan persekutuan Gereja Ortodoks Timur. Patriark Aleksandria secara aktif menjalin dan memelihara hubungan persekutuan dengan Patriarkat Konstantinopel, Patriarkat Antiokhia, Patriarkat Yerusalem, Patriarkat Moskwa, Patriarkat Serbia, Patriarkat Rumania, Patriarkat Bulgaria, Gereja Siprus, Gereja Yunani, Gereja Albania, Gereja Polandia, serta berbagai Gereja Ortodoks otosefalus dan otonom lainnya di seluruh dunia.
Dalam tata kehormatan (taxis) resmi Gereja Ortodoks, yang mengatur urutan penghormatan protokoler di antara para pemimpin Gereja-gereja otosefalus, Patriark Aleksandria secara tradisional menempati urutan kedua, tepat setelah Patriark Ekumenis Konstantinopel — sebuah kedudukan yang mendahului bahkan Patriark Antiokhia dan Patriark Yerusalem sekalipun. Kedudukan kehormatan yang begitu tinggi ini mencerminkan betapa pentingnya warisan apostolik Santo Markus serta betapa besarnya peranan historis Aleksandria dalam membentuk teologi dan struktur Gereja purba, sebuah kehormatan yang tetap dijaga dan dihormati hingga hari ini meski secara jumlah umat, Patriarkat Aleksandria jauh lebih kecil dibandingkan banyak Gereja Ortodoks nasional lainnya.
Tantangan pada Abad - 21
Seperti halnya Gereja-Gereja Ortodoks lainnya di seluruh dunia, Patriarkat Aleksandria menghadapi berbagai tantangan yang berat dan kompleks pada zaman modern. Perubahan sosial yang cepat, gelombang urbanisasi besar-besaran di berbagai kota Afrika, migrasi penduduk, kemiskinan struktural yang masih membelenggu banyak wilayah, konflik bersenjata yang berkepanjangan di sejumlah negara, serta ketidakstabilan politik yang terus berulang di berbagai kawasan Afrika, semuanya memberikan dampak yang nyata terhadap kehidupan banyak umat dalam yurisdiksi Patriarkat.
Selain tantangan-tantangan struktural tersebut, pertumbuhan pesat berbagai denominasi Kristen baru khususnya gerakan-gerakan Pentakosta dan Injili yang berkembang sangat cepat di banyak wilayah Afrika serta perkembangan sekularisasi yang mulai terasa di sejumlah wilayah perkotaan, juga menjadi tantangan tersendiri dalam pelayanan pastoral Gereja. Meskipun dihadapkan pada rangkaian tantangan yang begitu kompleks ini, Patriarkat Aleksandria tetap dengan gigih berusaha menjawabnya melalui jalur pendidikan yang berkelanjutan, pelayanan sosial yang konkret, dialog antaragama dan antar-denominasi yang terbuka, serta karya misioner yang terus berkembang dan menjangkau wilayah-wilayah baru.
Persoalan Yurisdiksi di Afrika
Pada awal abad ke-21, muncul sebuah persoalan baru yang cukup serius dalam hubungan antar-Gereja Ortodoks, yang secara langsung memengaruhi Patriarkat Aleksandria. Setelah Patriark Theodoros II, pada 8 November 2019, mengakui keabsahan Gereja Ortodoks Ukraina yang baru saja memperoleh status otosefali (kemandirian penuh) dari Patriarkat Ekumenis Konstantinopel, Patriarkat Moskwa yang menolak keras pemberian otosefali tersebut dan memandangnya sebagai pelanggaran terhadap yurisdiksi kanonik yang selama ini diakuinya atas Ukraina memutuskan untuk menghentikan persekutuan Ekaristi dengan Patriark Aleksandria, sebagai bagian dari rangkaian pemutusan hubungan yang lebih luas dengan Konstantinopel dan para pendukungnya.
Sebagai kelanjutan dari perpecahan ini, pada Desember 2021 Sinode Kudus Gereja Ortodoks Rusia memutuskan untuk secara resmi mendirikan Eksarkat Patriarkal untuk Afrika sebuah struktur gerejawi baru yang secara langsung berada di bawah Patriarkat Moskwa, dengan mendirikan sejumlah keuskupan baru di berbagai negara Afrika yang secara kanonik telah lama berada di bawah yurisdiksi tunggal Patriarkat Aleksandria sejak tahun 1921. Langkah ini diambil sebagian sebagai respons terhadap sejumlah imam dan komunitas di Afrika yang tidak setuju dengan keputusan Patriark Theodoros mengenai Ukraina, dan memilih berpindah ke bawah naungan Moskwa. Patriarkat Aleksandria memandang langkah unilateral Moskwa ini sebagai pelanggaran serius terhadap batas-batas yurisdiksi kanonik yang sejak berabad-abad lamanya secara konsisten menempatkan seluruh benua Afrika di bawah pelayanan tunggal Takhta Santo Markus. Persoalan ini, yang mencerminkan ketegangan geopolitik yang lebih luas antara Konstantinopel dan Moskwa pasca-krisis Ukraina, masih menjadi salah satu tantangan paling serius dan belum terselesaikan dalam hubungan antar-Gereja Ortodoks pada masa kini.
Spiritualitas Patriarkat Alexandria
Tradisi rohani Patriarkat Aleksandria dibentuk oleh beberapa unsur utama yang saling menopang satu sama lain.
Iman Apostolik: Gereja memandang dirinya sebagai penerus langsung dan tak terputus dari pelayanan Santo Markus Sang Penginjil, dan dengan penuh kesetiaan menjaga kesinambungan ajaran para rasul yang diwariskan melaluinya hingga hari ini.
Inkarnasi Kristus: Tradisi teologi Aleksandria, sebagaimana dirumuskan secara mendalam oleh para teolog besarnya seperti Athanasius dan Kirilos, senantiasa menekankan bahwa Allah Putra sungguh-sungguh dan sepenuhnya menjadi manusia demi keselamatan seluruh dunia, sebuah kebenaran yang menjadi jantung dari seluruh bangunan teologinya.
Kehidupan Monastik: Warisan agung para Bapa Padang Gurun mengajarkan secara mendalam akan pentingnya doa yang tak henti, pertobatan yang terus-menerus, kerendahan hati yang radikal, dan peperangan rohani melawan godaan, warisan yang terus dihidupi oleh biara-biara Ortodoks hingga sekarang.
Pelayanan Misioner: Sejak masa Gereja perdana hingga sekarang, Patriarkat Aleksandria senantiasa memahami dirinya sebagai Gereja yang secara khusus diutus untuk membawa Injil kepada segala bangsa, dengan penekanan khusus dan berkelanjutan pada benua Afrika yang menjadi ladang pelayanan utamanya sejak awal mula.
Makna Patriarkat Alexandria bagi Gereja Universal
Patriarkat Aleksandria memiliki tempat yang sangat penting dan tak tergantikan dalam keseluruhan sejarah Kekristenan. Dari kota inilah berkembang tradisi teologi yang secara langsung membantu Gereja universal merumuskan ajaran-ajarannya yang paling fundamental mengenai misteri Tritunggal Mahakudus dan Inkarnasi Kristus; dua pilar utama seluruh bangunan iman Kristen. Di Mesir pula, melalui Santo Antonius dan Santo Pakhomius, lahir kehidupan monastik yang kemudian menjadi teladan dan sumber inspirasi bagi seluruh Gereja, baik di dunia Timur maupun di dunia Barat, selama lebih dari satu setengah milenium.
Selain warisan teologis dan spiritual yang begitu mendalam ini, karya misioner Patriarkat Aleksandria pada masa modern menunjukkan secara nyata bahwa semangat pewartaan Injil yang dimulai oleh Santo Markus hampir dua ribu tahun yang lalu tetap hidup dan berkobar hingga sekarang. Sebagai salah satu Gereja apostolik tertua dalam seluruh sejarah Kekristenan, Patriarkat Aleksandria terus menjadi saksi iman Ortodoks yang hidup di benua Afrika, sekaligus menjadi bagian yang sangat penting dan dihormati dari kehidupan Gereja universal secara keseluruhan.
Penutup
Patriarkat Aleksandria merupakan salah satu Gereja tertua dalam seluruh sejarah Kekristenan. Didirikan melalui pelayanan St. Markus Sang Penginjil pada pertengahan abad pertama, Gereja ini berkembang menjadi pusat teologi, pendidikan, dan kehidupan monastik yang memberikan pengaruh yang sangat besar dan tak terhapuskan bagi seluruh dunia Kristen, Timur maupun Barat.
Sepanjang perjalanan panjangnya, Patriarkat Aleksandria telah melewati masa para rasul yang penuh pergumulan awal, penganiayaan berat di bawah Kekaisaran Romawi yang melahirkan ribuan martir, kejayaan besar pada masa Bizantium ketika Gereja ini menjadi salah satu pusat Kekristenan terpenting di dunia, peran sentral dalam Konsili-Konsili Ekumenis yang membentuk seluruh arah teologi Kristen selamanya, perpecahan yang menyakitkan dan berjangka panjang pasca-Kalsedon, berabad-abad hidup di bawah pemerintahan Islam, masa panjang Kesultanan Ottoman, hingga berbagai tantangan kompleks dunia modern termasuk persoalan yurisdiksi yang belum terselesaikan hingga hari ini.
Namun di tengah seluruh perubahan besar yang telah dilalui sepanjang hampir dua ribu tahun itu, identitasnya tetap tidak berubah sejak awal hingga sekarang. Patriarkat Aleksandria tetap menjadi penjaga setia Takhta Santo Markus, pewaris sah tradisi teologi dan monastisisme Mesir yang begitu kaya dan mendalam, serta saksi iman Ortodoks yang terus hidup dan berkembang di benua Afrika. Pesan yang terus dihidupi oleh Gereja Aleksandria sejak masa para rasul hingga hari ini tetap sama, tidak pernah berubah: Kristus adalah Terang dunia, dan Injil-Nya dipanggil untuk terus diberitakan kepada semua bangsa, tanpa membedakan suku, bahasa, maupun budaya.