Pendahuluan
Matthias adalah rasul yang tidak termasuk dalam Dua Belas yang asli, namun dipilih untuk menggantikan Yudas Iskariot setelah kejatuhan dan kematiannya — sebuah pemilihan yang unik karena dilakukan bukan oleh Kristus secara langsung selama pelayanan-Nya di bumi, melainkan oleh para rasul dan jemaat mula-mula lewat doa dan undian, setelah kenaikan Kristus ke surga.
Latar Belakang
Kitab Suci tidak banyak mencatat kehidupan Matthias sebelum pemilihannya. Yang diketahui hanyalah bahwa ia termasuk salah satu murid yang mengikuti Yesus sejak awal, "mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga" (Kisah Para Rasul 1:21-22) — sebuah kualifikasi yang menunjukkan bahwa meski bukan bagian dari Dua Belas yang asli, ia adalah saksi mata yang menyertai seluruh pelayanan Kristus sejak permulaan, kemungkinan sebagai bagian dari kalangan tujuh puluh murid yang disebut dalam Lukas 10:1.
Beberapa tradisi kuno menyebutnya berasal dari suku Yehuda, dan sebagian sumber apokrif bahkan mengaitkannya dengan garis keturunan yang sama dengan beberapa tokoh Perjanjian Lama, meski hal ini tidak dapat dipastikan.
Proses Pemilihan yang Unik
Setelah kematian Yudas Iskariot, Petrus berdiri di tengah jemaat yang berjumlah sekitar seratus dua puluh orang dan menjelaskan perlunya menggantikan posisi yang kosong, mengutip Mazmur: "Biarlah jabatannya diambil orang lain" (Kisah Para Rasul 1:20, mengutip Mazmur 109:8). Dua orang diajukan sebagai kandidat: Yusuf yang disebut Barsabas (juga dijuluki Yustus) dan Matthias. Jemaat kemudian berdoa, "Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini" (Kisah Para Rasul 1:24), lalu mereka membuang undi, dan undian itu jatuh pada Matthias, sehingga "ia terhitung bersama dengan kesebelas rasul itu" (Kisah Para Rasul 1:26).
Cara pemilihan lewat undian ini unik dalam sejarah Gereja — sebuah pola yang tidak pernah terulang lagi setelahnya, karena kelak jemaat mula-mula lebih banyak memilih pemimpin lewat penumpangan tangan dan penunjukan langsung (seperti pemilihan tujuh diaken dalam Kisah Para Rasul 6). Namun bagi para rasul saat itu, undian dipahami sebagai cara membiarkan Allah sendiri yang menentukan pilihan-Nya, sebuah praktik yang berakar dari tradisi Perjanjian Lama.
Karya Misi
Menurut Tradisi Gereja, setelah menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta bersama rasul-rasul lain, Matthias mewartakan Injil di sekitar Yudea, dan menurut beberapa tradisi juga melakukan perjalanan misi ke wilayah Kappadokia dan pesisir Laut Kaspia, serta beberapa sumber menyebut Etiopia. Sejarawan Gereja awal, Klemens dari Aleksandria, mencatat beberapa perkataan Matthias yang menekankan pentingnya mendisiplinkan tubuh dan mengendalikan hawa nafsu demi memperkuat kehidupan rohani — menunjukkan bahwa ia dikenal sebagai pengajar yang menekankan hidup asketis dan pengendalian diri sebagai bagian dari kesetiaan mengikut Kristus.
Murid-Murid dan Warisan Pengajaran
Klemens dari Aleksandria mencatat beberapa perkataan dan ajaran Matthias yang diteruskan lewat tradisi lisan murid-muridnya di Aleksandria dan sekitarnya, meski naskah lengkap ajarannya sendiri tidak bertahan hingga sekarang — hanya kutipan-kutipan yang dilestarikan penulis-penulis Kristen awal. Di wilayah Kolkhis dekat Laut Hitam, tradisi Georgia mencatat bahwa Matthias membina beberapa komunitas kecil dan menahbiskan penatua lokal sebelum kemartirannya, meletakkan salah satu benih paling awal kekristenan di kawasan Kaukasus.
Detail Kehidupan dan Kemartiran
Menurut Tradisi Gereja, Matthias mengalami kemartiran, dengan beberapa sumber menyebutkan ia dirajam dan kemudian dipenggal di Yerusalem, sementara tradisi lain menempatkan kemartirannya di wilayah Kolkhis, dekat Laut Hitam (kini wilayah Georgia), setelah pengajarannya membawa banyak penduduk setempat kepada iman Kristen.
Ikonografi dan Penghormatan Liturgis
Dalam ikonografi Ortodoks, Matthias digambarkan sebagai pria dengan janggut, kadang memegang kapak atau tombak sebagai lambang tradisi kemartirannya. Hari rayanya diperingati Gereja Ortodoks setiap 9 Agustus, dan bersama para rasul lainnya pada 30 Juni.
Makna Spiritual
Kisah Matthias mengajarkan bahwa panggilan Allah tidak selalu datang di titik paling awal atau paling menonjol dalam sebuah kisah. Ia telah setia mengikuti Kristus sejak baptisan Yohanes, tanpa pernah menjadi bagian dari lingkaran inti Dua Belas Rasul — namun ketika waktunya tiba, kesetiaannya yang konsisten selama bertahun-tahun itulah yang menjadikannya layak dipilih untuk menggenapkan jumlah Dua Belas kembali. Kesetiaan yang tak terlihat pun, pada waktunya, dapat dipanggil untuk peran yang besar.
Penutup
Dari seorang murid yang setia mengikuti Kristus sejak awal namun tidak pernah tercatat namanya secara khusus, Matthias dipilih Allah sendiri lewat doa dan undian jemaat mula-mula untuk menggenapkan kembali jumlah Dua Belas Rasul, dan mewartakan Injil hingga ke ujung Laut Hitam.
Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang — doa yang menuntun jemaat mula-mula memilih penerus yang tepat bagi Kerajaan-Nya.