Pendahuluan
Simon orang Zelot adalah salah satu rasul yang latar belakangnya paling mencolok secara politik — sebuah identitas yang menjadikannya salah satu kisah panggilan paling menarik di antara Dua Belas: seorang yang mungkin dulunya menentang Roma dengan kekerasan, dipanggil untuk mengikuti Kerajaan yang sama sekali berbeda coraknya.
Nama dan Latar Belakang: Makna "Zelot"
Simon disebut "orang Zelot" dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (Lukas 6:15; Kisah Para Rasul 1:13), sementara Matius dan Markus menyebutnya "orang Kanaan" (Matius 10:4; Markus 3:18) — sebuah kata Aram yang juga berarti "yang bersemangat" atau "yang giat," padanan langsung dari kata Yunani Zelotes. Julukan ini kemungkinan merujuk pada latar belakangnya sebagai bagian dari, atau setidaknya bersimpati dengan, gerakan nasionalis Yahudi yang menentang penjajahan Romawi pada abad pertama — kelompok yang beberapa dekade kemudian berkembang menjadi kelompok Zelot yang memimpin pemberontakan besar melawan Roma pada tahun 66-73 M.
Untuk membedakannya dari Simon Petrus, ia selalu disebut dengan julukan tambahan ini dalam setiap daftar Dua Belas Rasul.
Sebuah Persaudaraan yang Mengejutkan
Yang membuat kehadiran Simon begitu menarik dalam lingkaran Dua Belas Rasul adalah kedekatannya dengan Matius, si mantan pemungut cukai. Jika benar Simon memiliki latar belakang sebagai seorang Zelot — kelompok yang secara ideologis memusuhi siapa pun yang bekerja sama dengan penjajah Romawi, termasuk para pemungut cukai — maka persaudaraan mereka berdua dalam kelompok Dua Belas Rasul adalah salah satu gambaran paling kuat tentang kuasa Kristus mempersatukan mereka yang secara duniawi seharusnya saling bermusuhan. Dalam Kristus, seorang mantan pemberontak politik dan seorang mantan kolaborator penjajah duduk bersama sebagai saudara seiman, meninggalkan kebencian lama mereka demi Kerajaan yang jauh lebih besar.
Kitab Suci tidak mencatat satu perkataan pun dari Simon, sama seperti beberapa rasul lain yang perannya lebih senyap. Namun kehadirannya dalam daftar Dua Belas — bersama latar belakang politiknya yang khas — menjadi kesaksian diam-diam yang kuat tentang jangkauan Injil melampaui sekat ideologi dan permusuhan politik.
Karya Misi
Menurut Tradisi Gereja, Simon mewartakan Injil di Mesir, Afrika Utara (termasuk Libya dan Mauritania), Persia, dan beberapa tradisi bahkan menyebut ia sempat mencapai Inggris Britania — meski catatan ini kurang kuat secara historis dibanding wilayah misinya di Timur. Tradisi yang lebih mapan menempatkannya berdampingan dengan Rasul Tadeus dalam misi bersama di Persia dan Mesopotamia menjelang akhir hidup mereka berdua.
Murid-Murid dan Warisan Pengajaran
Selama pelayanan bersamanya dengan Yakobus anak Alfeus di Mesir dan Persia, Simon dikenal menahbiskan penatua-penatua lokal untuk memimpin komunitas-komunitas kecil yang mereka dirikan. Tradisi Afrika Utara juga mencatat beberapa murid yang dibaptisnya di Mauritania dan Libya, meski catatan tentang mereka secara individu sangat terbatas dibanding rasul-rasul lain yang wilayah misinya lebih dekat dengan pusat-pusat penulisan sejarah Gereja pada masa itu.
Detail Kehidupan dan Kemartiran
Menurut Tradisi Gereja, Simon mengalami kemartiran di Persia bersama Rasul Tadeus, atau menurut sumber lain, digergaji hidup-hidup di Persia setelah pengajarannya membuat para imam penyembah berhala setempat marah karena banyak orang meninggalkan kepercayaan lama mereka. Cara kemartiran yang ekstrem ini menjadikannya salah satu simbol ketabahan iman yang paling kuat di antara Dua Belas Rasul.
Ikonografi dan Penghormatan Liturgis
Dalam ikonografi Ortodoks, Simon digambarkan sebagai pria dengan janggut, kadang memegang gergaji sebagai lambang tradisi kemartirannya, atau kadang buku sebagai lambang pengajarannya. Hari rayanya diperingati Gereja Ortodoks setiap 10 Mei, dan bersama Tadeus pada 19 Juni dalam beberapa kalender liturgis.
Makna Spiritual
Simon mengajarkan bahwa identitas dan sejarah masa lalu seseorang — betapa pun kuatnya dibentuk oleh kemarahan politik, kebencian, atau perlawanan — dapat diubah sepenuhnya oleh panggilan Kristus. Duduk bersama Matius sebagai saudara seiman, ia menjadi teladan hidup bahwa Injil sanggup mempersatukan mereka yang secara duniawi mustahil menjadi satu.
Penutup
Dari seorang yang mungkin dulu memandang penjajah Romawi dan para kolaboratornya dengan kebencian, Simon menjadi rasul yang duduk bersama mantan pemungut cukai sebagai saudara, dan menyerahkan nyawanya di Persia demi Injil yang mempersatukan mereka berdua.
Dalam Kristus, mereka yang dulu bermusuhan kini duduk bersama sebagai saudara seiman.